kawanjarinews.com – Nglegi, Gunungkidul 31 Desember 2024 – Kerusakan talud di Dusun Karang, RT 31, RW 009, Kalurahan Nglegi, Kapanewon Patuk, menjadi perhatian serius warga setempat. Longsoran yang terjadi sejak tahun lalu kondisinya kini semakin mengkhawatirkan, mengancam keselamatan salah satu rumah warga dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Talud sepanjang 40 meter dengan tinggi 5 meter tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penahan tebing, tetapi juga melindungi akses jalan utama yang menghubungkan Padukuhan Karang dengan Padukuhan Manggung.
Talud yang longsor tersebut menjadi penyebab utama retakan di jalan penghubung antarpadukuhan. Retakan yang semakin melebar hingga mencapai kurang lebih 3 cm memperparah situasi, terutama di tengah musim hujan. Salah satu rumah yang terancam adalah milik Mbah Ngadikan, warga Dusun Karang. “Longsor ini sudah hampir menyentuh kamar mandi rumah saya. Setiap kali hujan deras, saya ada kekhawatiran karena takut longsor susulan,” ungkapnya penuh kecemasan.
Ketua RT 31, Widodo, juga mengutarakan kekhawatirannya. “Jalan ini adalah jalur utama warga untuk aktivitas sehari-hari, termasuk siswa yang berangkat ke sekolah. Jika kerusakan ini tidak segera ditangani, tanda-tanda retakan pada tengah bahu jalan sangat berpotensi menyebabkan longsor susulan, sehingga apabila itu terjadi maka akan memutus akses jalan sepenuhnya dan menghambat aktivitas keseharian warga,” jelasnya.

Longsoran awal terjadi pada musim hujan tahun 2023 di Dusun Karang, Kalurahan Nglegi. Lokasi ini termasuk kawasan rawan longsor, sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2011 tentang Tata Ruang. Hingga kini, area yang terdampak belum mendapatkan penanganan permanen dari pemerintah desa maupun kabupaten.
Baca juga: Urgensi Penanganan Kerusakan Jalan dan Potensi Bahaya Longsor Susulan di Dusun Karang, Gunungkidul
Menangapi masalah Ini Lurah Nglegi, Wasdiyanta, menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam perbaikan talud ini. “Kami telah menerima laporan dari perangkat desa dan warga. Namun, skala prioritas anggaran tahun 2024 ini lebih difokuskan pada perbaikan jalan poros desa. Talud ini akan menjadi fokus utama pada tahun anggaran 2025,” jelasnya.
Dewi Lestari, Kepala Dusun Karang, menjelaskan bahwa upaya penyampaian informasi terkait perkembangan respon pihak pemerintah desa telah dirinya sampaikan kepada Ketua RT. 31 “Satu tahun yang lalu, Pak RT mengajukan laporan ke saya. Memang kejadian itu terjadi saat musim hujan taun lalu. Saya sudah melaporkan kepada Pihak Pemerintah Desa dan Pak Lurah menyampaikan akan menanganinya, tetapi bukan tahun 2024 ini karena dana sudah ada anggarannya untuk tahun berikutnya. Itu sudah dilaporkan, namun belum ada pergantian tahun, dan saat itu hujan datang lagi. Kemudian, terjadi retakan di jalan yang cukup menggegerkan warga. Sebenarnya, retakan itu sudah saya laporkan, namun karena belum ada pergantian tahun, Pak Lurah berjanji akan mengusahakan untuk tahun berikutnya. Ketika warga bertanya lagi, itu karena retakan baru muncul dua minggu yang lalu, setelah longsoran yang terjadi. Pertanyaan warga muncul lagi karena adanya retakan tersebut, bukan karena informasi terkait respon Pemerintah Desa belum disampaikan kepada warga, terkait respon pihak Pemerintah Desa, saya sudah menyampaikannya melalui Ketua RT. 31 Bapak Widodo.” Jelasnya.
Dengan adanya kejadian ini, Warga RT 31, RW 009, Kalurahan Nglegi, Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul, mengharapkan pemerintah desa agar lebih peka dan responsif terhadap kondisi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana. Sebagai bagian dari pemerintahan yang berada di garis terdepan, desa memiliki peran strategis untuk mengimplementasikan kebijakan dan program mitigasi yang efektif.
Warga berharap pemerintah dapat bertindak lebih cepat dalam menangani masalah ini. Mbah Ngadikan mengungkapkan, “Kami tidak menuntut banyak, hanya ingin jalan ini diperbaiki agar kami merasa aman.” Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua RT 31, Widodo. “Kami memahami keterbatasan anggaran pemerintah desa, tetapi kami berharap ada solusi sementara untuk mengurangi risiko bencana,” katanya.
Menaggapi serta merespon aspirasi warga, pihak Pemerintah Desa Nglegi melalui Lurah Wasdiyanta telah menetapkan rencana perbaikan talud sebagai prioritas anggaran tahun 2025. “Memang tahun ini saya prioritaskan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa) dan fokuskan anggarannya untuk perbaikan Jalan Poros Desa. Selama ini, jalan Poros Desa memang mengalami kerusakan yang cukup parah. Namun, untuk mengatasi longsoran talud yang terjadi di Dusun Karang, tahun 2025 saya prioritaskan titik longsoran tersebut. Anggaran untuk perbaikan jalan akan tersedia pada tahun 2025. Begitu anggaran desa cair tahun 2025, Insyaallah, saya akan segera menindaklanjutinya. Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak ingin memperkeruh suasana. Sebagai penanggung jawab, meskipun anggaran saya fokuskan pada Jalan Poros Desa, saya tetap mengutamakan penanganan masalah longsoran talud di Dusun Karang sebagai titik perbaikan skala prioritas di tahun 2025 karena kondisi disana memang sangat mendesak” Jelasnya
Lebih lanjut Lurah Wasdiyanta menympaikan, “saya sempat bertemu dengan Pak Jumbadi, salah satu Putra dari warga yang rumahnya berada tepat di bawah titik longsoran. Saat saya survei, saya sempat berbicara dengannya dan menyampaikan bahwa saya tidak ingin Pemerintah Desa dianggap tidak peduli terhadap kondisi warga. Saya memahami bahwa masalah ini harus segera ditangani dan akan menjadi prioritas utama pada tahun 2025.” terangnya
Lurah Wasdiyanta menambahkan bahwa sekitar Rp50 juta akan dialokasikan untuk memperkuat pondasi talud guna mencegah kerusakan lebih lanjut. “intinya ya nanti berapa cukupnya kita anggarkan kita hitung bersama dengan warga. Tapi sesuai kemampuan Kelurahan tetapi paling tidak sekitar Rp50 juta ya tak anggarke lah, biar kondisi permasalahan Dusun segera teratasi satupersatu,” tambahnya.
Langkah antisipasi yang akan diambil Desa Nglegi untuk mengatasi potensi bencana di masa depan, mengingat daerah tersebut rawan bencana. Wasdiyanta (Lurah Nglegi) menjelaskan bahwa Desa akan berupaya untuk mengalokasikan anggaran khusus untuk tanggap bencana, dengan tujuan mencegah dan menangani bencana lebih efektif. “Insyaallah Desa ada anggaran tanggap bencana secara khusus, tapi ya untuk mencegah saja, kita mengantisipasi jangan sampai nanti apabila sewaktu-waktu terjadi bencana malah jadi terbengkalai, ya nanti dengan upaya itu Saya kira saya akan menyiapkan anggaran-anggaran untuk kebencanaan begitu, intinya seperti itu” jelasnya
Kerusakan talud di Dusun Karang, Desa Nglegi, merupakan masalah serius yang mengancam keselamatan warga dan kelancaran aktivitas sehari-hari. Meskipun keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama, Pemerintah Desa Nglegi telah mengambil komitmen serta menetapkan perbaikan longsoran talud di Dusun Karang sebagai skala prioritas untuk tahun anggaran 2025. Lurah Wasdiyanta berkomitmen untuk mengalokasikan sekitar Rp50 juta untuk memperkuat pondasi talud dan mencegah kerusakan lebih lanjut, serta mengantisipasi potensi bencana di masa depan dengan anggaran tanggap bencana yang lebih besar.
Warga berharap agar tindakan cepat dan responsif dapat segera dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dan memperbaiki infrastruktur yang vital bagi kehidupan mereka. Pemerintah desa berjanji akan terus berupaya untuk menangani masalah ini dengan perhatian penuh, menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Liputan ini akan terus kami kawal untuk memastikan pemerintah desa menepati komitmennya. Dengan langkah konkret, diharapkan ancaman longsor di Dusun Karang, RT 31, RW 009, Desa Nglegi, Kapanewon Patuk, Kab.Gunungkidul dapat diminimalkan, serta akses jalan kembali normal demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat setempat.










