KawanJariNews.com – JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan arahan strategis mengenai persatuan nasional, kemandirian bangsa, dan tanggung jawab moral kepemimpinan dalam forum nasional yang dihadiri hampir seluruh unsur pemerintahan pusat dan daerah, dengan penekanan pada sejarah, geopolitik global, transformasi ekonomi, serta keadilan sosial.
Pidato Presiden Prabowo Subianto diawali dengan sapaan lintas agama dan budaya sebagai penegasan komitmen terhadap keberagaman Indonesia. Presiden menyampaikan penghormatan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, jajaran kabinet, kepala daerah, pimpinan DPRD, unsur TNI-Polri, BIN, KPK, hingga aparatur pemerintahan di tingkat daerah.
Presiden menegaskan bahwa kehadiran hampir 99 persen struktur pemerintahan dari pusat hingga daerah merupakan momentum penting untuk memperkuat koordinasi nasional. Dalam konteks tersebut, ia menyebut Indonesia sebagai bangsa yang kerap dianggap “the impossible nation” karena mampu bertahan sebagai negara bersatu di tengah keberagaman suku, bahasa, agama, dan budaya.
Dalam refleksi historisnya, Presiden mengingatkan bahwa Indonesia lahir melalui perjuangan panjang melawan kolonialisme dan diskriminasi rasial. Ia menyoroti hilangnya sejumlah situs sejarah nasional dan meminta para kepala daerah bertanggung jawab menjaga warisan budaya sebagai bagian dari identitas dan kedaulatan bangsa.
Presiden juga menyinggung ancaman terhadap eksistensi Indonesia sejak awal kemerdekaan, termasuk berbagai upaya destabilisasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan nasional dan pemahaman sejarah sebagai landasan pengambilan kebijakan.
Pada bagian geopolitik global, Presiden menyampaikan kekhawatiran terhadap potensi konflik berskala dunia dan dampaknya bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Ia menegaskan kembali prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, non-blok, dan non-align, dengan menekankan pentingnya kemandirian pertahanan dan ketahanan nasional. Presiden menyampaikan prinsip bahwa memperkuat kemampuan sendiri merupakan syarat utama agar Indonesia tidak menjadi pihak yang dirugikan dalam dinamika global.
Dalam pemaparan Strategi Transformasi Bangsa, Presiden menjelaskan kerangka kebijakan nasional yang bertumpu pada delapan misi Asta Cita, 17 program prioritas, dan program hasil terbaik cepat. Fokus utama diarahkan pada sembada pangan, sembada energi, dan penciptaan lapangan kerja berkelanjutan.
Di sektor pangan, Presiden menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan prasyarat kedaulatan nasional. Di sektor energi, kelapa sawit diposisikan sebagai komoditas strategis dengan berbagai turunan industri. Presiden menegaskan kebijakan pemanfaatan sumber daya untuk kepentingan dalam negeri sebelum ekspor.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sebagai salah satu implementasi konkret, dengan capaian puluhan juta penerima manfaat, penciptaan lapangan kerja, serta tingkat keberhasilan yang tinggi. Presiden juga menyampaikan adanya perhatian dan kajian dari lembaga internasional terhadap efektivitas program tersebut.
Presiden turut mengumumkan rencana peluncuran sejumlah proyek industri prioritas pada 2026 dengan nilai investasi ratusan triliun rupiah dan potensi penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Di bidang lingkungan, Presiden menyatakan perang terhadap sampah sebagai agenda nasional, seiring proyeksi keterbatasan kapasitas tempat pembuangan akhir.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, pemerintah akan meluncurkan Gerakan Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang mencakup pembersihan massal, penataan estetika perkotaan melalui program gentengisasi, serta penertiban elemen visual yang dinilai merusak wajah kota.
Dalam aspek keadilan sosial, Presiden menegaskan komitmen pemerintah terhadap pemberdayaan desa, nelayan, dan petani melalui koperasi, modernisasi infrastruktur perikanan, serta penyediaan akses pendidikan yang merata. Presiden menekankan bahwa pendidikan merupakan hak dasar dan investasi utama untuk memutus rantai kemiskinan.
Menutup arahannya, Presiden Prabowo menyerukan persatuan nasional tanpa syarat politik atau afiliasi partai. Ia menegaskan komitmennya untuk mendukung seluruh kepala daerah demi kepentingan rakyat dan menolak politik permusuhan. Presiden menyampaikan bahwa tanggung jawab kepemimpinan pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada rakyat dan Tuhan Yang Maha Esa, sebagai dasar moral dalam menjalankan pemerintahan.
















