Tumpukan Sampah di Tanah Abang Sebabkan Jalan Licin dan Ganggu Mobilitas Warga

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA — Persoalan sampah di DKI Jakarta kembali menjadi sorotan setelah tumpukan sampah meluber hingga menutupi sebagian badan Jalan Administrasi Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin pagi. Kondisi tersebut mengganggu arus lalu lintas, memicu kecelakaan pengendara, serta menimbulkan kekhawatiran warga terkait dampak kesehatan dan lingkungan.

Peristiwa itu terjadi di tengah upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tengah mendorong kebijakan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber sebagai bagian dari reformasi tata kelola lingkungan perkotaan.

Berdasarkan pantauan di lokasi, volume sampah yang menumpuk di Jalan Administrasi Tanah Abang memakan hampir separuh badan jalan sehingga kendaraan hanya dapat melintas secara bergantian.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan pelaku usaha di kawasan perdagangan Tanah Abang yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi terbesar di Jakarta Pusat.

Sejumlah kendaraan barang dan kendaraan roda dua dilaporkan mengalami hambatan mobilitas akibat menyempitnya akses jalan. Selain itu, permukaan jalan menjadi licin karena rembesan cairan organik dari tumpukan sampah yang didominasi limbah sisa makanan dan sampah rumah tangga.

Warga setempat menyebut sedikitnya tiga pengendara motor mengalami kecelakaan tergelincir pada pagi hari akibat kondisi jalan yang licin.

Selain risiko kecelakaan, warga juga mengeluhkan bau menyengat serta banyaknya lalat di sekitar lokasi. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap potensi penyebaran penyakit yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan.

Sejumlah warga menilai persoalan sampah di kawasan tersebut tidak hanya dipicu tingginya volume sampah harian, tetapi juga lemahnya kedisiplinan dalam pemilahan dan pembuangan sampah.

Berdasarkan keterangan warga dan petugas lapangan, salah satu kendala utama berasal dari masih bercampurnya sampah organik dan anorganik sehingga proses pengangkutan dan pengolahan menjadi lebih sulit dilakukan.

Baca Juga  Razia Juru Parkir Liar di Pasar Tanah Abang, Lima Orang Diamankan

Di sisi lain, kapasitas armada pengangkut sampah juga disebut mengalami keterbatasan. Jumlah kendaraan operasional yang sebelumnya mencapai 35 unit dikabarkan berkurang menjadi sekitar 15 unit.

Meskipun pengaturan jadwal pengangkutan telah diterapkan, kondisi tersebut dinilai belum mampu mengimbangi volume sampah yang terus masuk, termasuk dari luar wilayah administratif sekitar.

Petugas lapangan menyebut arus sampah yang tidak terkendali serta rendahnya kepatuhan masyarakat terhadap aturan pemilahan menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kebersihan kawasan padat aktivitas tersebut.

Merespons situasi tersebut, Satuan Pelaksana Lingkungan Hidup (Satpel LH) DKI Jakarta menyatakan akan melakukan penanganan cepat melalui pengangkutan sampah secara intensif.

Langkah penanganan mencakup pengerahan truk pengangkut berkapasitas besar dan alat berat untuk mempercepat proses pembersihan serta mengembalikan fungsi jalan agar dapat dilalui secara normal.

Namun demikian, penanganan teknis tersebut dinilai masih bersifat jangka pendek apabila tidak diikuti perbaikan sistem pengelolaan sampah dari sumbernya.

Di tengah persoalan yang terjadi di Tanah Abang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyoroti model pengelolaan sampah yang dinilai lebih tertata di Pasar Keramat Jati, Jakarta Timur.

Dalam kunjungan kerja pada Senin pagi, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung proses pemilahan sampah di pasar tersebut yang telah menerapkan sistem pengolahan berbasis sumber.

Program tersebut dikembangkan melalui pola kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk mengolah sampah pasar menjadi produk bernilai tambah, seperti pupuk organik dan produk turunan lain yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertamanan maupun energi alternatif.

Menurut Pramono Anung, satu pasar di Jakarta rata-rata menghasilkan sekitar lima ton sampah per hari. Dengan total 153 pasar di bawah pengelolaan Perumda Pasar Jaya, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai sekitar 500 ton setiap hari.

Baca Juga  Mahasiswa Tumpahkan 2 Truk Sampah Di Kantor Walikota Tangsel

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan pengurangan signifikan volume sampah yang dibuang ke TPST melalui sistem pemilahan dan pengolahan dari sumber, termasuk dari sektor pasar, hotel, restoran, kafe, dan rumah tangga.

Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yakni mengubah paradigma pengelolaan sampah dari sekadar pengangkutan dan pembuangan menjadi pengelolaan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.

Perbedaan kondisi antara Tanah Abang dan Keramat Jati dinilai menunjukkan pentingnya penguatan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi mulai dari tingkat masyarakat hingga pengelola kawasan.

Sejumlah pihak menilai diperlukan penguatan kapasitas armada pengangkut, peningkatan kesadaran masyarakat, penerapan sistem insentif dan sanksi, serta pengawasan yang lebih konsisten agar persoalan sampah tidak terus berulang.

Selain itu, keterlibatan masyarakat dan pelaku usaha dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber di wilayah perkotaan.

Hingga saat ini, proses pembersihan di kawasan Jalan Administrasi Tanah Abang masih terus dilakukan oleh petugas terkait guna mengurangi dampak terhadap lalu lintas dan aktivitas warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *