KawanJariNews.com – JAKARTA — Masyarakat di Jakarta Selatan, dalam beberapa waktu terakhir mengeluhkan sulitnya memperoleh Minyakita, minyak goreng bersubsidi yang menjadi bagian dari program pemerintah untuk menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat.
Kelangkaan tersebut turut berdampak pada kenaikan harga di tingkat eceran. Di sejumlah pasar tradisional, harga Minyakita dilaporkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter. Di lapangan, harga jual disebut mencapai kisaran Rp22 ribu hingga Rp24 ribu per liter tergantung wilayah dan ketersediaan stok.
Kondisi ini menjadi perhatian masyarakat karena Minyakita selama ini menjadi pilihan utama bagi kalangan ekonomi menengah ke bawah, pelaku usaha kecil, hingga pedagang makanan yang bergantung pada harga minyak goreng terjangkau untuk operasional sehari-hari.
Berdasarkan pantauan di Pasar Tegal Parang, Jakarta Selatan, sejumlah pedagang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan Minyakita dari distributor. Sebagian toko bahkan menghentikan penjualan karena harga beli dinilai terlalu tinggi dan stok sulit diperoleh.
Seorang pedagang menyebut kenaikan harga terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Harga distribusi yang terus meningkat membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual agar tetap dapat menutup biaya operasional.
Pedagang lainnya mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga dari pemasok. Menurutnya, kenaikan harga bukan berasal dari keinginan pedagang menaikkan keuntungan, melainkan akibat perubahan harga di tingkat distribusi.
Selain persoalan stok, sebagian masyarakat juga mulai mengeluhkan ketidakstabilan harga yang dinilai memberatkan pengeluaran rumah tangga.
Seorang ibu rumah tangga mengatakan dirinya tetap membeli Minyakita meski harga naik karena kebutuhan memasak sehari-hari tidak dapat ditunda.
“Kalau minyak goreng mahal tentu sangat terasa bagi pengeluaran rumah tangga. Mau tidak mau tetap beli karena kebutuhan dapur setiap hari,” ujar seorang warga di Jakarta Selatan.
Keluhan serupa juga disampaikan pelaku usaha makanan kecil yang mengaku biaya produksi meningkat akibat harga minyak goreng yang terus naik.
“Kalau harga minyak terus naik, otomatis modal jualan ikut bertambah. Kadang keuntungan jadi makin kecil karena tidak mungkin harga makanan langsung dinaikkan terlalu tinggi,” ujar seorang pedagang gorengan.
Di sisi lain, sebagian konsumen mulai beralih ke minyak goreng kemasan non-subsidi yang dinilai memiliki kualitas lebih baik atau harga yang tidak jauh berbeda dengan Minyakita di pasaran saat ini.
Beberapa warga juga mengaku khawatir apabila kelangkaan terus berlangsung dan distribusi tidak segera stabil.
“Masyarakat takut kalau nanti barang makin susah dicari. Sekarang saja di beberapa tempat sudah kosong atau harus cari ke pasar lain,” kata seorang pengunjung pasar.
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi pasokan Minyakita adalah tingginya serapan untuk program bantuan pangan nasional.
Dalam program tersebut, jutaan penerima bantuan memperoleh distribusi Minyakita dalam jumlah besar sehingga memengaruhi ketersediaan stok di jalur perdagangan umum dan pasar tradisional.
Selain itu, tingginya permintaan masyarakat serta distribusi yang belum merata juga disebut menjadi faktor yang memicu kelangkaan dan kenaikan harga di sejumlah daerah.
Pengamat menilai kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan sistem distribusi dan pengawasan stok agar program subsidi benar-benar tepat sasaran dan tidak menimbulkan gejolak harga di tingkat konsumen.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera menstabilkan distribusi Minyakita agar harga kembali sesuai HET serta mudah diperoleh di pasar tradisional maupun toko kelontong.
Hingga saat ini, pemerintah disebut terus melakukan pemantauan terhadap distribusi minyak goreng subsidi dan berkoordinasi dengan produsen serta distributor guna menjaga pasokan tetap tersedia di berbagai daerah.














