KawanJariNews.com – JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS memberikan dampak signifikan terhadap sektor elektronik ritel di Indonesia. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga berbagai produk elektronik impor maupun rakitan dalam negeri yang masih bergantung pada komponen impor, sekaligus menurunkan daya beli masyarakat.
Tekanan nilai tukar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir disebut berdampak langsung terhadap struktur biaya industri elektronik, mulai dari pengadaan bahan baku, distribusi, hingga harga jual kepada konsumen. Sejumlah pelaku usaha ritel elektronik melaporkan kenaikan harga barang secara bertahap sejak awal April hingga Mei 2026.
Produk elektronik berukuran besar seperti kulkas, mesin cuci, dan pendingin ruangan (AC) disebut mengalami kenaikan harga paling signifikan. Beberapa pedagang menyebut kenaikan harga mencapai 20 hingga 30 persen, tergantung merek dan spesifikasi produk.
Selain barang elektronik rumah tangga, kenaikan harga juga terjadi pada televisi, kipas angin, serta berbagai perangkat elektronik konsumen lainnya. Produk rakitan lokal turut terdampak karena sebagian bahan baku dan komponen produksi masih berasal dari impor, termasuk semikonduktor, plastik industri, dan logam tertentu.
Kondisi tersebut diperparah oleh meningkatnya biaya logistik internasional, kenaikan tarif pengiriman, serta penyesuaian kebijakan bea masuk dan pajak impor barang elektronik. Di sisi lain, kenaikan biaya energi dan operasional pabrik turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga jual produk.
Pelaku usaha ritel mengungkapkan bahwa dampak paling terasa saat ini adalah menurunnya volume penjualan. Sejumlah pedagang melaporkan penurunan jumlah pembeli hingga sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Perubahan perilaku konsumen juga mulai terlihat. Masyarakat disebut cenderung menunda pembelian barang elektronik yang bersifat non-prioritas dan lebih memilih menggunakan perangkat lama selama masih dapat berfungsi. Sebagian konsumen juga mulai beralih ke produk dengan harga lebih terjangkau atau mencari alternatif di pasar sekunder.
Selain itu, konsumen kini lebih aktif membandingkan harga melalui platform digital serta memanfaatkan promo untuk menekan pengeluaran. Tren pembelian bertahap juga mulai muncul, di mana konsumen membeli perangkat secara terpisah sesuai kemampuan keuangan.
Pelaku usaha berharap pemerintah dan otoritas moneter dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna mengurangi tekanan terhadap sektor perdagangan elektronik. Mereka juga mendorong adanya kebijakan yang dapat meringankan biaya impor komponen elektronik strategis serta memperkuat industri dalam negeri agar ketergantungan terhadap barang impor dapat dikurangi secara bertahap.
Di tengah tekanan ekonomi global, sektor elektronik dinilai menjadi salah satu indikator penting kondisi daya beli masyarakat karena produk elektronik termasuk kategori barang konsumsi rumah tangga yang sensitif terhadap perubahan harga.
Pengamat ekonomi menilai stabilitas makroekonomi, efisiensi rantai pasok, serta penguatan industri nasional menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan sektor ritel elektronik dan mencegah pelemahan daya beli masyarakat berlangsung berkepanjangan.
















