Aksi Offbit Massal Ojol 20 Mei: Tak Serentak, Tapi Berdampak ke Usaha Kuliner dan Penumpang

banner 468x60

kawanjarinews.com – Jakarta — Ribuan pengemudi ojek online (ojol) melakukan aksi demonstrasi dan offbit (mematikan aplikasi) secara massal pada Selasa, 20 Mei 2025, sebagai bentuk protes terhadap besarnya potongan tarif yang dikenakan oleh aplikator. Namun, aksi ini ternyata tidak diikuti secara serentak oleh seluruh mitra pengemudi di lapangan.

Pantauan tim redaksi di Stasiun Cawang, Jakarta Selatan, masih terlihat sejumlah pengemudi ojol yang tetap “onbit” atau aktif menarik penumpang. Beberapa di antaranya memilih tidak menggunakan atribut resmi aplikasi sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan-rekan yang ikut berdemonstrasi.

Aksi demonstrasi yang dikoordinasikan oleh Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPI) ini dilatarbelakangi keluhan para pengemudi terkait tingginya potongan dari tarif yang dibayarkan pelanggan, yang diklaim mencapai hingga 70%. SPI menuntut agar potongan itu diturunkan menjadi maksimal 10%, bahkan mendesak agar dihapuskan sama sekali. Mereka juga meminta adanya kejelasan tarif yang adil untuk layanan penumpang, barang, dan makanan.

Dalam aksi ini, sebagian besar pengemudi dari aplikasi transportasi daring ternama seperti Gojek dan Grab terlibat, sementara sebagian lainnya tetap bekerja dengan alasan ekonomi. Salah satunya adalah Rizki, pengemudi aplikasi hijau, yang menyampaikan bahwa kebutuhan keluarga menjadi alasan utama dirinya tetap bekerja.

“Kalau ikut demo, belum tentu ada yang menjamin kebutuhan rumah tangga,” kata Rizki kepada tim kami.

Sementara itu, Babe Mardani, pengemudi dari aplikasi Maksim, menyebut bahwa pihaknya tidak ikut aksi karena kebijakan potongan Maksim dinilai lebih ringan, yakni berkisar antara 11% hingga 12%.

Aksi berlangsung di beberapa titik strategis di ibu kota, termasuk Stasiun Cawang, yang menjadi salah satu simpul transportasi penting di Jakarta Selatan.

Aksi digelar pada Selasa, 20 Mei 2025 dan diumumkan secara terbuka beberapa hari sebelumnya melalui media sosial serta jaringan komunikasi antar komunitas pengemudi.

Baca Juga  Siswa SDN Kayuringin Jaya 16 Bekasi Terpaksa Belajar Lesehan Pasca Banjir, Meja Dan Kursi Rusak Parah

Menurut Ketua Umum SPI, Lili Pujianti, aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap ketimpangan sistem dan kebijakan aplikator yang dinilai tidak berpihak pada pengemudi.

Di sisi lain, Ketua Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyatakan bahwa banyak aplikator telah melanggar regulasi, terutama terkait Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 1001 Tahun 2022 yang membatasi biaya sewa aplikasi maksimal 15%, dengan tambahan 5% untuk program kesejahteraan.

Aksi ini berdampak langsung terhadap gerai makanan mitra ojol dan penumpang

Beberapa pelaku usaha di sekitar Jakarta Selatan mengaku mengalami penurunan orderan secara signifikan. Misalnya, Dika, pengelola gerai makanan, menyebut tidak ada satu pun order masuk hingga siang hari, padahal biasanya terdapat 2–3 pesanan. Hal serupa diungkapkan Nikita, kasir di sebuah gerai gado-gado, yang menyebut biasanya menerima lebih dari lima order saat jam makan siang.

Sementara itu, penumpang seperti Dini dan Sandra mengaku kesulitan mendapatkan ojol pada hari aksi berlangsung. Dini bahkan memilih menggunakan moda transportasi alternatif karena order yang tak kunjung masuk.

Merugikan sih enggak, tapi jadinya telat ke kantor,” kata Dini.

Meskipun tidak semua pengemudi ikut serta, aksi offbit massal ini menunjukkan adanya ketimpangan dan keresahan nyata di lapangan. Diperlukan dialog terbuka dan inklusif antara pemerintah, aplikator, dan pengemudi untuk menciptakan ekosistem transportasi digital yang adil, manusiawi, dan berkelanjutan.

Baca juga: Ribuan Driver Ojek Online Gelar Aksi Akbar 2025, Desak Pemerintah Tegas terhadap Aplikator Pelanggar

Baca juga: Padepokan Brajamusti dan LBH Brajamusti Nusantara Gelar Sarasehan Budaya, Ajak Generasi Muda Lestarikan Kesenian Tradisional

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *