Siswa SDN Kayuringin Jaya 16 Bekasi Terpaksa Belajar Lesehan Pasca Banjir, Meja Dan Kursi Rusak Parah

banner 468x60

kawanjarinews.com – Bekasi – Puluhan siswa kelas 1 dan 3 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kayuringin Jaya 16, Kota Bekasi, Jawa Barat, harus menjalani proses belajar dengan kondisi memprihatinkan. Sejak banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada awal Maret lalu, mereka terpaksa duduk lesehan di dalam kelas karena meja dan kursi belajar mengalami kerusakan parah.

Fasilitas belajar di beberapa ruang kelas mengalami kerusakan berat usai banjir. Akibatnya, para siswa tidak bisa lagi menggunakan meja dan kursi seperti biasa. Untuk mengatasi hal tersebut, sebagian besar siswa membawa meja lipat dari rumah agar tetap dapat mengikuti pelajaran, sementara lainnya duduk langsung di lantai kelas.

Kondisi ini menimpa siswa kelas 1 dan kelas 3, yang merupakan jenjang awal pendidikan dasar dan sangat membutuhkan kenyamanan dalam proses belajar. Para orang tua siswa pun terlibat langsung dengan menyediakan meja belajar pribadi sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak mereka.

Insiden ini terjadi di SDN Kayuringin Jaya 16, salah satu sekolah negeri di wilayah Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Pihak sekolah menjelaskan bahwa seluruh kursi dan meja di ruang kelas tersebut rusak parah, beberapa bahkan patah dan berpotensi membahayakan siswa. Sebagai solusi sementara, pihak sekolah menyetujui skema pembelajaran lesehan dengan dukungan dan izin dari para orang tua siswa.

Kondisi darurat ini telah berlangsung sejak Maret 2025, setelah banjir besar merendam bangunan sekolah. Artinya, sudah hampir empat bulan para siswa menjalani kegiatan belajar dalam kondisi yang kurang layak.

Meski pihak sekolah telah menyampaikan laporan kerusakan kepada Dinas Pendidikan Kota Bekasi, hingga kini bantuan pengadaan mebel baru belum juga terealisasi. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap efektivitas proses belajar dan berdampak langsung pada kenyamanan siswa.

Baca Juga  Atasi Defisit Daya Tampung SMA, Pembangunan Sekolah Interkultural di Purwokerto Masuki Tahap Topping Off

“Kami sudah laporkan kerusakan sejak Maret, namun belum ada bantuan. Kami hanya bisa berusaha semampu mungkin agar siswa tetap bisa belajar,” ujar salah satu staf pengajar yang enggan disebutkan namanya.

Kasus ini menyoroti persoalan kerentanan infrastruktur pendidikan terhadap bencana alam dan lambatnya penanganan dari pihak berwenang. Situasi ini tentu menjadi evaluasi penting bagi pemerintah daerah dan pusat dalam mempercepat respons terhadap kerusakan fasilitas pendidikan. Pemerataan akses dan penyediaan sarana belajar yang layak harus menjadi prioritas utama agar tidak mengorbankan hak belajar generasi muda.

Baca juga: Akses Sekolah Terganggu, Petugas Bongkar Paksa Gerbang Smpn 17 Dan Sman 6 Tangerang Selatan

Baca juga: Nadiem Makarim Kembali Diperiksa Kejaksaan Agung Terkait Dugaan Korupsi Pengadaan Laptop Chromebook Rp9,9 Triliun

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *