kawanjarinews.com – Mojokerto, 8 Juni 2025 – Di lereng Gunung Penanggungan yang sejuk dan hijau, berdiri sebuah situs sejarah yang sarat nilai spiritual dan budaya: Petirtaan Jolotundo. Dibangun pada abad ke-10 Masehi, petirtaan ini menyimpan kisah panjang dari masa Kerajaan Mataram Kuno hingga Majapahit, dan kini menjadi salah satu destinasi wisata spiritual yang memikat di Jawa Timur.
Warisan Kerajaan dan Teknologi Kuno
Petirtaan Jolotundo dibangun oleh Raja Udayana dari Bali untuk putranya, Airlangga, yang kelak menjadi raja besar Kerajaan Kahuripan. Arsitektur bangunannya mencerminkan perpaduan gaya Hindu dan Jawa Kuno, dengan struktur batu andesit yang tertata presisi, menciptakan kolam suci berair jernih yang terus mengalir sejak lebih dari 1000 tahun lalu.
Menurut arkeolog, sistem saluran air yang digunakan pada petirtaan ini merupakan contoh canggih dari teknologi hidrologi masa lampau. Airnya berasal langsung dari sumber mata air alami Gunung Penanggungan, dan dipercaya memiliki unsur spiritual dan penyembuhan.

Daya Tarik Wisata Spiritual dan Alam
Kini, Jolotundo menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara, terutama mereka yang mencari kedamaian dan pengalaman spiritual. Setiap tahun, ribuan peziarah datang untuk melakukan ritual penyucian diri, terutama menjelang Hari Raya Nyepi, Waisak, atau malam 1 Suro.
Selain nilai spiritualnya, suasana alam di sekitar Jolotundo yang asri dan sejuk juga menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat. Jalur menuju lokasi dipenuhi pepohonan rindang dan suara gemericik air, menciptakan nuansa meditatif yang sulit ditemukan di tempat lain.
Potensi Pengembangan Ekowisata Budaya
Pemerintah Kabupaten Mojokerto terus mendorong pengembangan kawasan ini sebagai destinasi ekowisata berbasis budaya. “Kami ingin menjaga kelestarian nilai sejarah dan spiritual Jolotundo sambil membuka ruang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam kegiatan wisata yang berkelanjutan,” ujar seorang pejabat Dinas Pariwisata.
Beberapa fasilitas kini tengah ditingkatkan, termasuk jalur trekking, papan informasi sejarah, serta pelatihan bagi pemandu lokal agar wisatawan mendapatkan pengalaman yang edukatif dan bermakna.
Petirtaan Jolotundo bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga saksi bisu perjalanan budaya dan spiritual masyarakat Jawa. Dengan nilai historis yang kuat, keindahan alam yang terjaga, serta potensi wisata yang besar, Jolotundo menawarkan harmoni antara masa lalu dan masa kini sebuah warisan leluhur yang tetap hidup dan mengalir, seperti air sucinya yang tak pernah berhenti.
Baca juga: Di Balik Genggaman: Kisah Pilu dan Ketidakadilan Pengemudi Ojol dalam Era Digital
Baca juga: Eksploitasi Tambang Nikel Ancam Ekosistem dan Masyarakat Adat Raja Ampat















