kawanjarinews.com – Keris, sebagai salah satu warisan budaya Nusantara, memiliki nilai historis yang mendalam. Salah satu sumber tertulis yang banyak dijadikan rujukan dalam memahami ilmu perkerisan adalah Serat Centhini. Buku Ilmu Keris Menurut Serat Centhini yang disusun kembali oleh S. Lumintu mengungkap berbagai pemahaman mengenai dhapur keris. Buku ini pernah menjadi bahan diskusi dalam sarasehan budaya yang diselenggarakan pada Desember 1989 di Yogyakarta.
Apa Itu Dhapur Keris?
Dhapur adalah istilah yang digunakan untuk menyebut bentuk atau tipe bilah keris. Nama dhapur mengindikasikan bentuk spesifik keris, seperti Tilam Upih yang merupakan keris lurus, atau Sabuk Inten yang memiliki luk (lekukan) sebelas. Setiap dhapur memiliki karakteristik yang unik, baik dari segi bentuk, jumlah luk, hingga ornamen pada bilahnya.
Dalam tradisi perkerisan, masyarakat Jawa mengenal lebih dari 145 macam dhapur keris, namun hanya sekitar 120 jenis yang dianggap pakem atau sesuai dengan standar tradisional. Setiap dhapur memiliki filosofi dan makna tersendiri yang berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan, kepercayaan, dan kebudayaan Jawa.

Siapa Saja Pencipta Dhapur Keris?
Menurut catatan dalam Serat Centhini, penciptaan dhapur keris tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan hasil karya para raja dan empu yang hidup pada masanya. Berikut beberapa tokoh pencipta dhapur keris beserta tahun pembuatannya:
- Prabu Dhestharastra (Ngastina) – Menciptakan 19 dhapur, termasuk Sempana, Krajan, Tilam Upih, dan Pasopati.
- Prabu Adhastharasta – Menciptakan Betok pada tahun 725 Saka, dibuat oleh Empu Mayang.
- Prabu Gendrayana (Memenang) – Menciptakan Pandhawa, Karna Tinanding, dan Bima Kurdha pada tahun 827 Saka.
- Prabu Citrasoma (Penging) – Menciptakan Rara Siduwa dan Megantara pada tahun 941 Saka.
- Prabu Megantara (Purwacarita) – Menciptakan Cingkrong, Uruping Damar, dan Paniwen pada tahun 1026 Saka.
- Prabu Lembu Miluhur (Jenggala) – Menciptakan Panji Sekar, Carang Soka, dan Sinom pada tahun 1119 Saka.
- Prabu Surya Miluhur (Pajajaran) – Menciptakan Brojol pada tahun 1170 Saka.
- Prabu Banjaran Sekar (Pajajaran) – Menciptakan Parungsari, Tilamsekar, dan Tilamupih pada tahun 1186 Saka.
- Prabu Mundhingsari (Pajajaran) – Menciptakan Wora-wari dan Sinom pada tahun 1228 Saka.
- Prabu Sri Pamekas (Pajajaran) – Menciptakan Crita, Klontang, dan Jalak Ngore pada tahun 1260 Saka.
- Prabu Siyung Wanara (Pajajaran) – Menciptakan Jangkung dan Pamdhawa Cinarita pada tahun 1284 Saka.
- Prabu Brawijaya I (Majapahit) – Menciptakan Amangkurat Mankunegara, Jalak Sangu Tumpeng, dan Jalak pada tahun 1303 Saka.
- Prabu Brawijaya Terakhir (Majapahit) – Menciptakan Nagasasra, Butaijo, Sabuk Inten, dan lainnya pada tahun 1380 Saka.
- Prabu Sah Akbar Alam (Demak) – Menciptakan Senkelat pada tahun 1429 Saka, dibuat oleh Empu Sura.
- Sunan Kalijaga – Menciptakan Kidangsoka dan Balebang pada tahun 1484 Saka.
Bagaimana Penciptaan Dhapur Keris Berjalan?
Penciptaan dhapur keris dilakukan oleh empu (pembuat keris) atas perintah raja. Meskipun banyak raja setelah era Majapahit yang tetap membuat keris, namun mereka tidak menciptakan dhapur baru, melainkan mengikuti pakem yang sudah ada, yaitu dengan tetap mempertahankan bentuk, lekukan, dan ornamen khas dari dhapur yang telah diwariskan oleh para empu sebelumnya. Meskipun mengalami sedikit modifikasi dalam hal detail ukiran atau penggunaan bahan, esensi dan filosofi di balik setiap dhapur tetap dipertahankan sesuai dengan nilai-nilai budaya dan spiritual yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Mengapa Ilmu Perkerisan Penting?
Pemahaman tentang pencipta dhapur keris tidak hanya sekadar pengetahuan sejarah, tetapi juga bagian dari upaya pelestarian budaya yang lebih luas. Setiap dhapur keris memiliki makna filosofis yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan, ajaran spiritual, hingga simbol kepemimpinan pada masanya. Oleh karena itu, mengenali asal-usul dan filosofi di balik bentuk keris bukan sekadar memahami artefak sejarah, tetapi juga menjaga kesinambungan warisan leluhur agar tetap hidup dalam praktik budaya masyarakat modern. Dengan mengenal sejarah dan makna di balik bentuk keris, generasi penerus diharapkan dapat menjaga dan menghormati warisan budaya leluhur bangsa Indonesia.
Informasi ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pelaku, pecinta, dan pelestari budaya Nusantara. Dengan memahami asal-usul dhapur keris, kita dapat lebih menghargai keris sebagai salah satu warisan budaya yang kaya nilai sejarah dan spiritual.
Baca juga: Membaca Kembali Kearifan Lokal dalam Menghadapi Krisis Global
Baca juga: Musik Jawa dalam Era Digital: Bertahan atau Berubah?










