Jika Dolar Kehilangan Dominasi, Siapa yang Akan Mengendalikan Ekonomi Dunia?

banner 468x60

KawanJariNews.com | Editorial | 23 Oktober 2026

 JAKARTA — Selama puluhan tahun, dolar Amerika Serikat (AS) bukan sekadar mata uang nasional, melainkan salah satu fondasi utama sistem keuangan global. Dolar digunakan dalam perdagangan internasional, transaksi komoditas, pembayaran lintas negara, pembiayaan utang, hingga cadangan devisa bank sentral. Karena itu, munculnya pertanyaan mengenai kemungkinan berakhirnya dominasi dolar bukan hanya menyangkut masa depan ekonomi AS, tetapi juga arah keseimbangan kekuatan ekonomi dunia.

Pertanyaan mendasarnya bukan semata-mata apakah dolar akan kehilangan kedudukannya, melainkan bagaimana dunia akan beradaptasi jika mata uang tersebut tidak lagi menjadi pilihan utama dalam transaksi internasional. Perubahan semacam itu dapat memengaruhi arus perdagangan, biaya pinjaman, stabilitas nilai tukar, serta kemampuan negara-negara dalam mengelola cadangan devisa. Bagi Indonesia, perubahan tersebut juga berpotensi membawa peluang sekaligus risiko yang perlu diantisipasi melalui kebijakan ekonomi yang terukur.

Dominasi Dolar Mulai Berubah, tetapi Belum Tergantikan

Data menunjukkan bahwa dominasi dolar memang mengalami penurunan dalam komposisi cadangan devisa global. Berdasarkan data IMF yang dikutip dalam laporan Federal Reserve AS edisi Juli 2025, porsi dolar dalam cadangan devisa resmi global tercatat sekitar 58 persen pada 2024, turun dibandingkan puncaknya yang mencapai 72 persen pada 2001. Meski demikian, dolar masih berada jauh di atas mata uang utama lainnya. Euro menempati posisi berikutnya dengan porsi sekitar 20 persen, sedangkan renminbi atau yuan China sekitar 2 persen. (Sumber: Federal Reserve, The International Role of the U.S. Dollar – 2025 Edition).

Data IMF untuk kuartal IV 2025 selanjutnya menunjukkan porsi dolar sebesar 56,77 persen dari total cadangan devisa global yang dilaporkan. Angka ini menggambarkan penurunan bertahap, bukan bukti bahwa kedudukan dolar telah runtuh. Sementara itu, survei Bank for International Settlements (BIS) menunjukkan dolar berada pada salah satu sisi sekitar 89 persen transaksi valuta asing global pada April 2025. Angka tersebut menegaskan bahwa dolar masih memainkan peran sentral dalam pasar keuangan internasional.

Fakta ini penting untuk membedakan dua hal yang sering dicampuradukkan dalam perdebatan publik: berkurangnya porsi dolar dalam cadangan devisa dan hilangnya fungsi dolar sebagai mata uang utama perdagangan serta keuangan internasional. Keduanya saling berkaitan, tetapi tidak identik. Pergeseran cadangan devisa tidak otomatis berarti perusahaan, bank, dan pemerintah di seluruh dunia akan berhenti menggunakan dolar.

Dengan demikian, skenario yang lebih masuk akal untuk dianalisis adalah terbentuknya sistem moneter yang semakin multipolar, ketika sejumlah mata uang berbagi fungsi internasional sesuai kepentingan perdagangan, investasi, dan kebijakan masing-masing negara.

Mengapa Dunia Bergantung pada Dolar?

Kekuatan dolar tidak hanya berasal dari besarnya perekonomian AS. Kedudukannya juga ditopang oleh pasar keuangan yang luas, likuiditas tinggi, ketersediaan instrumen investasi, serta kepercayaan terhadap kemampuan pasar AS dalam menyediakan aset yang dapat diperdagangkan dalam skala besar.

Baca Juga  Pemerintah Bebaskan PPh Pasal 21 bagi Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta untuk Perkuat Daya Beli

Ketika perusahaan di dua negara berbeda melakukan perdagangan, penggunaan dolar sebagai mata uang perantara dapat menyederhanakan pembayaran dan mengurangi kebutuhan menukar mata uang berkali-kali. Mekanisme ini juga memudahkan perusahaan mengelola risiko nilai tukar dan membantu bank menyediakan pembiayaan lintas negara.

Namun, ketergantungan tersebut memiliki konsekuensi. Ketika dolar menguat, negara yang memiliki kewajiban utang dalam dolar dapat menghadapi beban pembayaran yang lebih besar jika pendapatan mereka terutama berasal dari mata uang domestik. Sebaliknya, ketika dolar melemah, sebagian kewajiban tersebut dapat menjadi lebih ringan jika dihitung dalam mata uang lokal, meskipun dampak akhirnya bergantung pada pergerakan nilai tukar, struktur utang, dan kondisi ekonomi masing-masing negara.

Kedudukan dolar juga memberikan keuntungan strategis kepada AS karena pemerintah dan pelaku ekonominya dapat mengakses pembiayaan dalam mata uang yang banyak digunakan dunia. Akan tetapi, keuntungan tersebut bukan berarti AS kebal terhadap inflasi, defisit fiskal, gejolak pasar, atau penurunan kepercayaan investor.

Apa yang Terjadi Jika Dolar Kehilangan Dominasi?

Jika penggunaan dolar menurun secara signifikan dalam jangka panjang, dampaknya kemungkinan berlangsung secara bertahap dan berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.

Pertama, permintaan global terhadap aset berdenominasi dolar dapat berubah. Apabila bank sentral, investor, dan lembaga keuangan mengalihkan sebagian besar portofolionya ke mata uang lain, biaya pembiayaan pemerintah dan perusahaan AS berpotensi meningkat. Namun, hasil tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena porsi dolar dalam cadangan devisa menurun. Besarnya dampak akan bergantung pada alasan perpindahan dana, kondisi pasar, serta ketersediaan aset alternatif yang dinilai aman dan likuid.

Kedua, perdagangan internasional berpotensi menggunakan lebih banyak mata uang. Negara yang memiliki hubungan dagang erat dapat memperluas pembayaran langsung menggunakan mata uang masing-masing. Jika mekanisme tersebut berjalan efisien, pelaku usaha dapat mengurangi sebagian biaya konversi valuta asing dan ketergantungan pada perantara tertentu.

Meski demikian, penggunaan mata uang lokal bukan berarti seluruh risiko nilai tukar menghilang. Perusahaan tetap perlu memperhitungkan perbedaan kurs, likuiditas, biaya lindung nilai, dan kemampuan memperoleh mata uang yang diperlukan pada saat pembayaran jatuh tempo.

Ketiga, pasar komoditas dapat mengalami perubahan pola penetapan harga dan penyelesaian transaksi. Minyak, gas, logam, dan berbagai komoditas lainnya selama ini banyak diperdagangkan dengan acuan dolar. Jika mata uang alternatif semakin banyak digunakan, kontrak perdagangan mungkin menjadi lebih beragam. Akan tetapi, perubahan mata uang pembayaran tidak dengan sendirinya mengubah harga dasar komoditas, yang tetap dipengaruhi oleh penawaran, permintaan, kondisi geopolitik, biaya produksi, dan distribusi.

Baca Juga  KADIN Jatim Perkuat Sinergi dengan Kanwil DJP I: Dorong Penerimaan Negara Tanpa Memberatkan Dunia Usaha

Keempat, pengaruh kebijakan moneter AS terhadap negara lain dapat berubah, tetapi tidak serta-merta menghilang. Selama dolar masih digunakan secara luas dalam pembiayaan, perdagangan, dan pasar keuangan, perubahan suku bunga Federal Reserve tetap berpotensi memengaruhi aliran modal serta nilai tukar negara berkembang.

Dengan kata lain, berkurangnya dominasi dolar dapat mengubah saluran penularan gejolak ekonomi global, bukan menghapus keterkaitan antarperekonomian.

Apakah Yuan China Akan Menggantikan Dolar?

China merupakan salah satu negara yang berupaya memperluas penggunaan renminbi dalam perdagangan dan transaksi lintas negara. Besarnya perekonomian China serta perannya dalam rantai pasok global memberikan dasar bagi peningkatan penggunaan mata uang tersebut.

Namun, menjadi mata uang perdagangan yang semakin penting berbeda dari menjadi mata uang cadangan utama dunia. Untuk mengambil alih sebagian besar fungsi dolar, yuan perlu didukung oleh kepercayaan internasional, akses pasar yang luas, likuiditas yang memadai, serta kemampuan investor asing menyimpan dan memindahkan aset secara leluasa.

Faktor kebijakan keuangan, pengelolaan nilai tukar, dan keterbukaan pasar modal juga memengaruhi keputusan bank sentral serta investor global. Karena itu, peningkatan penggunaan yuan tidak otomatis menjadikannya pengganti dolar secara menyeluruh.

Euro juga memiliki infrastruktur keuangan yang kuat dan digunakan secara luas dalam perdagangan serta investasi internasional. Sementara itu, sejumlah mata uang lain dapat memperoleh peran lebih besar dalam wilayah atau sektor tertentu. Pada akhirnya, sistem global yang terbentuk mungkin bukan sistem dengan satu mata uang penguasa baru, melainkan sistem yang membagi fungsi internasional di antara beberapa mata uang.

Dampaknya bagi Indonesia: Peluang Mengurangi Risiko, tetapi Tantangan Tetap Ada

Bagi Indonesia, berkurangnya ketergantungan global terhadap dolar dapat membuka ruang untuk memperluas transaksi menggunakan rupiah dan mata uang mitra dagang. Pembayaran bilateral dalam mata uang lokal berpotensi mengurangi kebutuhan konversi melalui dolar untuk transaksi tertentu, bergantung pada desain mekanisme pembayaran dan keseimbangan perdagangan kedua negara.

Manfaatnya dapat dirasakan oleh perusahaan yang melakukan ekspor dan impor, terutama apabila pendapatan dan kewajiban mereka dapat diselaraskan dalam mata uang yang sama. Penggunaan mata uang lokal juga dapat membantu memperluas pilihan dalam penyelesaian transaksi lintas negara.

Namun, peluang tersebut tidak boleh diartikan sebagai jaminan bahwa rupiah akan otomatis menguat atau biaya impor akan turun. Apabila suatu perusahaan menerima pembayaran dalam rupiah tetapi harus membeli bahan baku dari negara yang menggunakan mata uang berbeda, risiko nilai tukar tetap ada. Demikian pula, harga energi dan komoditas global masih dapat berfluktuasi meskipun metode pembayarannya berubah.

Indonesia juga perlu memperhitungkan struktur utang luar negeri, kebutuhan pembiayaan perdagangan, kecukupan cadangan devisa, dan kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik. Stabilitas rupiah tetap ditentukan oleh berbagai faktor, termasuk inflasi, kinerja perdagangan, arus modal, produktivitas, kondisi fiskal, serta kredibilitas kebijakan ekonomi.

Baca Juga  Dana Desa 2025 dan Prinsip Good Governance – Tantangan Reformasi Tata Kelola Desa

Karena itu, strategi yang relevan bukan sekadar mengurangi penggunaan dolar, melainkan memperkuat fondasi ekonomi nasional. Diversifikasi mata uang akan lebih bermanfaat jika didukung oleh pasar keuangan yang berkembang, sistem pembayaran yang andal, instrumen lindung nilai yang memadai, dan kebijakan yang menjaga stabilitas makroekonomi.

Dunia Multipolar Tidak Otomatis Lebih Stabil

Berkurangnya dominasi satu mata uang sering dipandang sebagai peluang menciptakan sistem ekonomi yang lebih seimbang. Negara-negara dapat memiliki lebih banyak pilihan dalam perdagangan dan pengelolaan cadangan devisa, sementara ketergantungan pada satu pusat keuangan dapat berkurang.

Namun, sistem dengan banyak mata uang utama juga dapat menimbulkan tantangan baru. Perbedaan kebijakan moneter, perubahan nilai tukar yang lebih tajam, serta ketidakseragaman infrastruktur pembayaran dapat meningkatkan biaya transaksi. Jika tidak disertai koordinasi dan aturan yang jelas, diversifikasi justru berpotensi menambah kompleksitas pengelolaan risiko.

Persoalan lainnya adalah kepercayaan. Mata uang internasional tidak memperoleh kedudukan hanya karena pemerintah suatu negara menginginkannya. Peran tersebut dibangun melalui kapasitas ekonomi, stabilitas institusi, kredibilitas kebijakan, kedalaman pasar keuangan, dan keyakinan bahwa aset dalam mata uang tersebut dapat diakses serta diperdagangkan ketika dibutuhkan.

Dengan demikian, tantangan bagi negara-negara yang ingin memperluas penggunaan mata uang alternatif bukan hanya membangun sistem pembayaran, melainkan juga menyediakan lingkungan ekonomi dan keuangan yang dapat dipercaya oleh pelaku pasar internasional.

Indonesia Harus Bersiap, Bukan Sekadar Menunggu

Kemungkinan berkurangnya dominasi dolar layak dipandang sebagai perubahan struktural yang perlu dipantau, bukan sebagai kepastian bahwa sistem keuangan global akan segera runtuh atau berpindah ke satu mata uang pengganti. Data internasional memperlihatkan adanya diversifikasi cadangan devisa, tetapi dolar masih memegang peran yang sangat besar dalam transaksi valuta asing dan sistem keuangan global.

Bagi Indonesia, respons yang paling rasional adalah memperluas pilihan transaksi internasional tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan kepercayaan pasar. Pemerintah, Bank Indonesia, lembaga keuangan, serta pelaku usaha perlu menilai manfaat dan risiko setiap mekanisme pembayaran berdasarkan kebutuhan nyata, bukan semata-mata dorongan geopolitik.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan siapa yang akan menggantikan dolar, melainkan apakah Indonesia mampu membangun perekonomian yang cukup kuat untuk menghadapi perubahan apa pun dalam sistem moneter dunia. Sebab, ketika keseimbangan ekonomi global berubah, negara yang paling siap bukan selalu negara dengan mata uang paling berpengaruh, melainkan negara yang memiliki fundamental kuat, kebijakan konsisten, produktivitas tinggi, dan kemampuan beradaptasi.

KawanJariNews.com — Editorial ekonomi yang menempatkan data, analisis, dan kepentingan publik sebagai landasan pemberitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *