KawanJariNews.com — Ruas Jalan Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) KM 72+000 B arah Parungkuda menuju Jakarta di wilayah Kecamatan Ciambar, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami longsor pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Longsor terjadi setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras berintensitas tinggi selama beberapa jam yang menyebabkan tebing di sisi jalan tol runtuh dan menutup sebagian badan jalan.
Akibat peristiwa tersebut, arus kendaraan dari arah Sukabumi menuju Jakarta sempat ditutup total demi alasan keselamatan dan untuk mendukung proses evakuasi material longsor. Sementara itu, arus lalu lintas dari arah Jakarta menuju Sukabumi dilaporkan tetap berjalan normal karena longsor hanya berdampak pada satu sisi jalur.
Berdasarkan informasi di lokasi, longsor terjadi pada lereng dengan tinggi sekitar 15 meter dan area terdampak sepanjang kurang lebih 20 hingga 25 meter. Material berupa tanah, batu, lumpur, dan vegetasi runtuh ke badan jalan tol hingga menutupi sebagian jalur utama.
Petugas kepolisian, pengelola jalan tol, serta tim penanganan darurat langsung diterjunkan ke lokasi beberapa saat setelah kejadian dilaporkan. Satuan Lalu Lintas Polres Sukabumi segera melakukan pengamanan area dan menerapkan rekayasa lalu lintas untuk mengurangi dampak kemacetan yang sempat terjadi di sekitar akses tol.
Kendaraan dari arah Sukabumi menuju Jakarta dialihkan keluar melalui Gerbang Tol Cigombong. Sementara kendaraan dari wilayah Parungkuda yang hendak menuju Bogor diarahkan melewati jalur arteri Parungkuda–Cicuruk sebelum kembali masuk melalui kawasan Cigombong.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Wilan Oktavian, menyampaikan bahwa penanganan dilakukan secara cepat dengan mengerahkan alat berat dan personel ke lokasi longsor.
“Begitu kejadian dilaporkan, penanganan langsung dilakukan di lokasi. Fokus kami adalah membuka akses secepat mungkin tanpa mengabaikan aspek keselamatan. Alat berat dan personel segera diturunkan sehingga dalam beberapa jam lajur sudah bisa difungsikan kembali,” ujar Wilan Oktavian dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Untuk mempercepat proses pembersihan material longsor, BPJT bersama operator jalan tol mengerahkan dua unit excavator, 10 unit dump truck, dan tiga unit water tank. Petugas juga memasang penerangan tambahan di lokasi guna mendukung proses evakuasi material hingga malam hari.
Selain membersihkan badan jalan, tim teknis melakukan penanganan darurat pada lereng dengan pemasangan geotextile untuk mengurangi infiltrasi air hujan ke area longsoran. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya sementara guna meminimalkan risiko longsor susulan mengingat curah hujan di wilayah Sukabumi masih tinggi.
Direktur Utama PT Trans Jabar Tol (TJT), Abdul Hakim Supriyadi, menyampaikan bahwa jalur utama atau mainroad di titik longsor telah dinyatakan aman dan kembali dibuka secara operasional pada Kamis (7/5/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB hingga 02.30 WIB.
“Kondisi mainroad titik longsor sudah aman, namun untuk penanganan lanjutan di lereng masih on progress. Penanganan permanennya masih dalam tahap review ahli,” kata Abdul Hakim kepada media.
Menurutnya, meskipun arus lalu lintas sudah kembali normal, proses evaluasi dan penguatan lereng masih terus dilakukan oleh tim ahli guna memastikan stabilitas tanah dalam jangka panjang.
Sejumlah langkah pengamanan tambahan juga masih diterapkan di lokasi, termasuk pemasangan water barrier untuk menjaga jarak aman kendaraan dari area lereng serta penempatan alat berat yang disiagakan untuk kebutuhan penanganan lanjutan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa penanganan cepat dilakukan untuk memastikan keselamatan pengguna jalan sekaligus memulihkan fungsi transportasi nasional di ruas tol strategis tersebut.
“Penanganan dilakukan secara cepat dengan fokus pada pembersihan material longsor, pengerahan alat berat, serta memastikan jalur transportasi dapat segera kembali berfungsi dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan,” ujar Dody dalam keterangan tertulis.
Berdasarkan laporan resmi PT Trans Jabar Tol (TJT), kejadian longsor tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka. Tidak ada kendaraan pengguna jalan yang tertimpa material longsor saat peristiwa terjadi.
Namun demikian, kejadian ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur jalan tol terhadap cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah dengan kontur perbukitan dan struktur lereng curam seperti Sukabumi.
Faktor curah hujan tinggi diduga menjadi pemicu utama longsor setelah tanah di area lereng mengalami penurunan stabilitas akibat tingginya kandungan air. Selain itu, kondisi geologis wilayah, kemiringan tebing, serta sistem drainase lereng juga menjadi aspek yang dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh.
BPJT Kementerian PU menginstruksikan PT Trans Jabar Tol untuk segera melakukan evaluasi total terhadap stabilitas lereng, sistem drainase, serta seluruh aset jalan tol yang terdampak longsor.
Selain evaluasi teknis di lokasi kejadian, operator jalan tol juga diminta mengidentifikasi titik rawan longsor lain di sepanjang ruas Tol Bocimi sebagai langkah mitigasi preventif untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
BPJT juga meminta agar hasil evaluasi teknis, desain penguatan lereng permanen, serta rencana tindak lanjut penanganan disampaikan untuk dilakukan kajian lebih lanjut oleh pihak terkait.
Pengamat infrastruktur menilai kejadian ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan operator jalan tol untuk memperkuat sistem mitigasi bencana di ruas jalan strategis nasional, khususnya di daerah rawan longsor.
Beberapa langkah yang dinilai perlu diperkuat antara lain peningkatan inspeksi lereng saat musim hujan, optimalisasi sistem drainase, pemasangan sensor pemantauan pergerakan tanah, hingga pengembangan sistem peringatan dini di titik rawan bencana.
Hingga saat ini, petugas masih melakukan pemantauan intensif di sekitar lokasi longsor. Pengguna jalan yang melintasi Tol Bocimi KM 72 juga diimbau untuk tetap berhati-hati, mematuhi rambu keselamatan, dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas.
















