KawanJariNews.com – JAKARTA — Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat suara tiruan, video deepfake, gambar palsu hingga rekayasa komunikasi yang menyerupai orang sebenarnya. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada 2026 mengingatkan bahwa penyalahgunaan AI telah meningkatkan kompleksitas penipuan digital, sementara masyarakat diminta memperkuat kewaspadaan dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi atau melakukan transaksi.
Kompleksitas tersebut membuat masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan pengenalan wajah, suara atau tampilan sebuah pesan. Dalam sejumlah modus, pelaku dapat menggunakan AI untuk meniru suara orang yang dikenal korban atau membuat konten visual yang tampak meyakinkan. Satgas PASTI juga sebelumnya mengingatkan mengenai penggunaan voice cloning dan deepfake dalam penipuan.
Berikut tujuh tips yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengenali dan mengantisipasi penipuan berbasis AI pada 2026:
Tips Pertama: Jangan langsung percaya hanya karena suara terdengar familiar
Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah penggunaan AI untuk meniru suara seseorang. Pelaku dapat menghubungi korban dan berpura-pura sebagai anggota keluarga, teman, rekan kerja atau pihak lain yang dikenal.
Karena itu, suara yang terdengar familiar tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk memastikan identitas penelepon.
Apabila seseorang tiba-tiba meminta uang, kode OTP, data pribadi atau tindakan tertentu melalui telepon, lakukan verifikasi menggunakan saluran komunikasi lain. Misalnya, hubungi nomor yang selama ini digunakan orang tersebut atau tanyakan informasi yang hanya diketahui oleh kedua pihak.
Komdigi menyebut teknologi AI saat ini memungkinkan suara seseorang ditiru dan digunakan dalam skema penipuan.
Tips Kesua: Waspadai video call yang terlihat meyakinkan
Kemajuan deepfake memungkinkan wajah seseorang direkayasa ke dalam konten video. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu berhati-hati ketika menerima panggilan video yang disertai permintaan uang, transfer, data pribadi atau instruksi tertentu.
Jangan menjadikan kemiripan wajah sebagai bukti tunggal bahwa orang yang tampil di layar benar-benar orang yang bersangkutan.
Jika situasinya mendesak, hentikan komunikasi sementara dan lakukan panggilan balik melalui nomor yang telah diketahui sebelumnya. Verifikasi juga melalui orang lain yang dipercaya apabila transaksi menyangkut jumlah uang atau informasi penting.
Komdigi menyatakan teknologi deepfake dan rekayasa sosial berbasis AI telah membuat penipuan semakin sulit dikenali.
Tips Ketiga: Jangan panik ketika menerima pesan yang mendesak
Penipuan sering memanfaatkan tekanan psikologis. Pelaku dapat membuat korban merasa harus segera bertindak dengan alasan kecelakaan, kebutuhan keluarga, masalah rekening, hadiah, pekerjaan, investasi atau keadaan darurat lainnya.
Kehadiran AI dapat membuat pesan tersebut tampak lebih meyakinkan karena pelaku dapat menghasilkan teks, suara maupun materi visual yang menyerupai komunikasi sebenarnya.
Jika menerima permintaan mendadak, jangan langsung melakukan transfer atau memberikan informasi rahasia. Berhenti sejenak, periksa sumber informasi dan hubungi pihak yang disebut dalam pesan melalui saluran resmi.
Tips Ke-empat: Periksa rekening atau tujuan pembayaran sebelum transfer
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum transaksi adalah memeriksa rekening atau e-wallet tujuan.
Kementerian Komdigi menyediakan layanan CekRekening.id yang antara lain dapat digunakan untuk memeriksa apakah rekening atau dompet digital pernah dilaporkan terkait dugaan penipuan. Layanan tersebut juga menyediakan fitur untuk melaporkan rekening yang dicurigai.
Namun, tidak ditemukannya suatu rekening dalam daftar laporan bukan berarti transaksi tersebut otomatis aman. Pemeriksaan rekening tetap perlu disertai verifikasi identitas penerima dan tujuan transaksi.
Tips Kelima: Jangan percaya bukti transfer hanya dari gambar
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap bukti transfer dalam bentuk tangkapan layar.
OJK pernah mengingatkan mengenai modus pemalsuan bukti transfer menggunakan AI. Dalam modus tersebut, pelaku dapat menggunakan teknologi untuk mengubah atau membuat bukti transfer yang tampak menyerupai dokumen transaksi sebenarnya.
Karena itu, penjual atau penerima pembayaran sebaiknya memastikan dana benar-benar masuk melalui aplikasi atau rekening penerima, bukan hanya berdasarkan gambar bukti transfer yang dikirim seseorang.
Tips Keenam: Jangan memberikan OTP, PIN, password, atau data sensitif
AI dapat membantu pelaku membuat komunikasi yang terlihat profesional dan meyakinkan. Namun, prinsip keamanan dasar tetap berlaku: jangan memberikan OTP, PIN, kata sandi, kode keamanan atau data sensitif kepada pihak lain.
Jika seseorang mengaku sebagai petugas bank, perusahaan, pemerintah, keluarga atau institusi tertentu dan meminta data rahasia melalui telepon atau pesan, lakukan verifikasi melalui kanal resmi.
Masyarakat juga perlu menghindari mengunggah dokumen pribadi secara sembarangan ke internet maupun layanan digital. Data seperti identitas, nomor rekening dan dokumen penting dapat menjadi bahan bagi pelaku untuk melakukan rekayasa sosial.
Tips Ke Tujuh: Gunakan prinsip “verifikasi berlapis”
Langkah paling penting dalam menghadapi penipuan berbasis AI adalah tidak bergantung pada satu tanda saja.
Jika sebuah informasi meminta uang atau data penting, lakukan beberapa pemeriksaan sekaligus: siapa pengirimnya, dari mana sumber informasinya, apakah nomor kontaknya benar, apakah permintaannya masuk akal, apakah rekening tujuan sesuai, dan apakah informasi tersebut dapat dikonfirmasi melalui sumber lain.
Semakin besar nilai transaksi atau semakin serius konsekuensinya, semakin penting verifikasi dilakukan melalui lebih dari satu jalur.
AI Mempermudah Modus, Verifikasi Tetap Menjadi Kunci
Perkembangan AI tidak hanya menghasilkan manfaat dalam berbagai bidang, tetapi juga dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas teknik yang digunakan pelaku kejahatan digital. Komdigi pada Agustus 2026 menyebut AI tidak menciptakan ancaman dari nol, tetapi dapat mempercepat perkembangan, kualitas dan jangkauan ancaman siber. Pemerintah juga mendorong pendekatan security by design serta penguatan infrastruktur anti-scam.
Pada Juli 2026, Komdigi juga menyampaikan bahwa kerugian akibat spam dan scam di Indonesia mencapai sekitar Rp7,5 triliun, berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance yang dikutip pemerintah. Komdigi menyoroti bahwa penipuan melalui panggilan telepon menjadi salah satu modus yang semakin canggih karena suara dapat ditiru menggunakan AI.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan masyarakat perlu berjalan bersamaan dengan penguatan sistem keamanan dari penyelenggara layanan digital, operator telekomunikasi, lembaga keuangan dan pemerintah.
Pada akhirnya, masyarakat tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk menghindari seluruh modus penipuan berbasis AI. Langkah dasar seperti tidak terburu-buru, tidak memberikan data rahasia, memeriksa tujuan transaksi dan melakukan verifikasi melalui saluran lain dapat menjadi bagian penting dari perlindungan diri di ruang digital.
KawanJariNews.com mengingatkan pembaca untuk selalu memeriksa sumber informasi dan menggunakan kanal resmi sebelum melakukan transaksi, memberikan data pribadi, atau mengikuti instruksi yang diterima melalui komunikasi digital.













