KawanJariNews.com – Harga minyak dunia melonjak tajam pada awal perdagangan Asia, Senin (9/3/2026), dengan kontrak berjangka minyak Brent naik hingga sekitar 23 persen menjadi USD114,36 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 27 persen ke level USD115,11 per barel. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak tersebut menandai kembalinya harga minyak di atas ambang psikologis USD100 per barel, sebuah level yang secara historis sering memicu kekhawatiran pasar mengenai stabilitas ekonomi global. Lonjakan ini terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi internasional.
Ketegangan meningkat setelah Iran menunjuk Moaba Kine sebagai penerus Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi negara tersebut. Langkah politik ini dinilai memperkuat dominasi kelompok garis keras di Teheran dalam situasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Selain faktor politik, laporan mengenai kapal tanker minyak yang mulai menghindari jalur pelayaran di Selat Hormus turut memperburuk kekhawatiran pasar. Selat Hormus merupakan salah satu jalur distribusi energi paling strategis di dunia yang menyalurkan lebih dari 20 persen pasokan minyak global. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan energi di pasar internasional.
Dilansir dari Reuters Kepala Ekonom JP Morgan, Bruce Kasman, menyatakan perekonomian global masih sangat bergantung pada aliran minyak dan gas dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormus. Ia memperkirakan bahwa jika konflik geopolitik di kawasan tersebut terus berlanjut tanpa penyelesaian diplomatik, harga minyak dapat mendekati USD120 per barel dalam jangka pendek.
Reuters juga melaporkan bahwa Kasman juga memperkirakan lonjakan harga energi dapat menekan pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen dan mendorong kenaikan inflasi konsumen hingga sekitar 1 persen. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara, terutama dalam menentukan arah suku bunga di tengah tekanan inflasi yang meningkat.
Di pasar keuangan Asia, dampak lonjakan harga minyak mulai terlihat pada pergerakan indeks saham regional. Indeks saham Jepang Nikkei dilaporkan turun sekitar 7,5 persen, sementara indeks Korea Selatan KOSPI melemah lebih dari 8 persen dan sempat memicu penghentian perdagangan sementara atau circuit breaker. Pasar saham Tiongkok juga mengalami tekanan setelah laporan inflasi domestik menunjukkan peningkatan harga konsumen.
Di pasar global, kontrak berjangka indeks S&P 500 tercatat turun lebih dari 2 persen, sedangkan kontrak Nasdaq melemah sekitar 2,5 persen. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kenaikan biaya energi yang dapat menekan kinerja perusahaan serta daya beli konsumen.
Lonjakan harga minyak juga memicu perubahan perilaku investor global. Dalam kondisi ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat, obligasi pemerintah AS, dan emas.
Penguatan dolar AS terjadi karena mata uang tersebut masih menjadi mata uang cadangan global sekaligus acuan utama dalam perdagangan komoditas energi. Sebaliknya, mata uang negara-negara pengimpor energi di Asia seperti yen Jepang, won Korea Selatan, dan yuan Tiongkok mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya impor energi.
Bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi, lonjakan harga minyak berpotensi menimbulkan tekanan terhadap neraca perdagangan, nilai tukar, serta anggaran subsidi energi. Kondisi ini juga mendorong kembali diskusi mengenai pentingnya diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi menuju energi terbarukan.
Para analis menilai stabilitas harga minyak dunia dalam beberapa bulan ke depan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta kelancaran jalur distribusi energi internasional, khususnya di Selat Hormus. Pemerintah dan pelaku pasar global saat ini terus memantau perkembangan situasi guna mengantisipasi dampak lebih lanjut terhadap perekonomian dan stabilitas pasar keuangan dunia.












