Perang Iran-Membesar: Serangan AS–Israel dan Balasan Iran Meluas ke Kawasan Teluk

banner 468x60

KawanJariNews.com – Perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang terjadi sejak akhir Februari 2026 terus mengalami eskalasi dan telah meluas ke beberapa negara di kawasan Timur Tengah, menurut laporan media internasional dan lembaga pemantau konflik global, Selasa (3/3/2026).

Dilansir dari Reuters dan laporan Al Jazeera, serangan militer yang dimulai saat AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan udara besar terhadap fasilitas militer dan komando Iran telah memicu balasan luas dari Teheran, termasuk peluncuran rudal dan drone ke wilayah Israel dan beberapa negara di kawasan Teluk.

Menurut laporan Reuters, Iran juga menyerang pangkalan militer AS di sejumlah negara teluk dan tempat-tempat strategis lainnya dengan rudal, sementara Israel terus melancarkan serangan udara di berbagai kota Iran, termasuk target sasaran militer dan komando.

Insiden semakin meluas saat Iran dilaporkan menutup jalur laut Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi global, sebagai respons atas tekanan militer yang semakin intensif, meskipun pernyataan penutupan ini dibantah oleh militer AS.

Perang ini telah menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar. Lembaga kemanusiaan Iran, serta laporan media internasional, menyatakan angka korban tewas di Iran telah mencapai ratusan, sementara serangan lintas perbatasan dan konflik di Lebanon juga menimbulkan korban di sana.

Media global juga melaporkan bahwa Hezbollah, sekutu Iran di Lebanon, telah meluncurkan proyektil dan drone ke wilayah Israel, mendorong respons militer Israel di wilayah selatan Beirut dan kawasan Lebanon lainnya.

Laporan lain menyebutkan bahwa konflik ini telah berdampak pada negara-negara Teluk seperti Kuwait, di mana jet tempur AS dilaporkan jatuh akibat kesalahan tembak di tengah serangan Iran, serta terjadi gangguan operasional di pangkalan militer Inggris di Siprus.

Baca Juga  Pemerintah RI Tangguhkan Partisipasi di Board of Peace, Fokus Lindungi WNI di Timur Tengah

Secara diplomatik, Iran melalui pejabat keamanan tertinggi menyatakan menolak negosiasi dengan AS, sambil menuduh langkah Washington memperburuk situasi di kawasan, meskipun ada seruan internasional untuk gencatan senjata.

Kepanikan global akibat konflik ini juga tercermin pada lonjakan harga minyak dunia dan gangguan rute perdagangan di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi ekspor minyak global. Para analis internasional memperingatkan bahwa jika konflik terus memburuk, dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi dan keamanan global.

Perang militer antara Iran dan koalisi militer yang dipimpin AS dan Israel telah memasuki fase eskalasi besar, dengan serangan udara, rudal, dan drone yang meluas di berbagai wilayah Timur Tengah.

Pihak yang terlibat adalah Republik Islam Iran, Amerika Serikat, Israel, serta sekutu Iran dari kelompok milisi dan Hezbollah di Lebanon. Selain itu pihak Teluk, termasuk militer AS di beberapa negara kawasan, juga terlibat.

Konflik berlangsung terutama di wilayah Iran (Teheran dan kota lainnya), Israel, Lebanon, dan sejumlah negara Teluk seperti Kuwait, serta jalur Selat Hormuz yang strategis.

Serangan militer besar dimulai pada 28 Februari 2026 dan terus berkembang hingga awal Maret 2026, dengan eskalasi signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Konflik dipicu oleh serangkaian serangan AS dan Israel terhadap fasilitas militer Iran dan pernyataan pemerintah terkait ancaman nuklir, diikuti balasan keras dari Teheran. Ketegangan meningkat menjadi konflik langsung yang melibatkan beberapa kekuatan regional dan internasional.

Serangan dimulai melalui udara (airstrikes), rudal, dan drone dari kedua pihak, dengan gerakan milis sekutu Iran ikut ambil bagian. Serangan juga menimbulkan gangguan terhadap rute perdagangan minyak dan infrastruktur strategis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *