Koreksi Kripto Dimanfaatkan Investor AS untuk Efisiensi Pajak Akhir Tahun

banner 468x60

KawanJariNews.com — Surabaya, 11 Desember 2025 –  Pasar kripto memasuki awal Desember 2025 dengan tekanan kuat. Bitcoin, yang menjadi indikator utama pasar, sempat jatuh hingga 6% pada perdagangan Senin (1/12/2025) sebelum pulih ke kisaran US$ 93.000. Meski demikian, nilainya masih sekitar 25% di bawah rekor mendekati US$ 125.000 pada Oktober lalu. Ether, Solana, dan aset digital utama lainnya juga belum menunjukkan sinyal pemulihan sepanjang tahun.

Di tengah penurunan harga tersebut, investor kripto di Amerika Serikat justru memanfaatkan momentum ini untuk melakukan efisiensi pajak melalui strategi tax-loss harvesting. IRS memungkinkan kerugian dari penjualan aset digital digunakan untuk mengurangi keuntungan investasi lain maupun pendapatan kena pajak. Praktik ini menjadi semakin relevan menjelang penutupan tahun fiskal.

Fleksibilitas Tax-Loss Harvesting di Sektor Kripto

Pendiri MiklosCPA, Miklos Ringbauer, menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini justru memberi peluang fiskal bagi investor.

“Jika Anda memiliki kesempatan untuk menurunkan pendapatan kena pajak, itu selalu menguntungkan. Kripto berada pada posisi unik yang memungkinkan hal itu dilakukan,” ujarnya kepada CNBC International.

Keunggulan strategi ini didukung oleh status kripto yang dikategorikan IRS sebagai properti, bukan sekuritas. Dengan demikian, kripto tidak terikat Wash-Sale Rule, yaitu aturan yang melarang investor membeli kembali aset yang sama dalam 30 hari setelah menjualnya rugi. Akibatnya, investor dapat mencatatkan kerugian lalu segera membeli kembali aset tersebut tanpa melanggar ketentuan perpajakan.

CPA Marianela Collado menegaskan fleksibilitas tersebut sebagai faktor kunci mengapa tax-loss harvesting menjadi populer di kalangan investor kripto.

“Anda bisa merealisasikan kerugian, lalu membeli kembali aset yang sama seketika. Ini salah satu aspek unik kripto,” jelasnya.

Kerugian yang direalisasikan sebelum 31 Desember 2025 dapat dimasukkan ke laporan pajak tahun berjalan. Jika kerugian melebihi total keuntungan, sebagian dapat mengurangi pendapatan kena pajak, sementara sisanya dapat dibawa ke tahun berikutnya tanpa batas waktu.

Baca Juga  PPMSE Tak Patuh Pajak Terancam Diblokir, Pemerintah Siapkan PMK Baru

Potensi Perubahan Regulasi di Amerika Serikat

Meskipun strategi ini legal dan efektif, peluang tersebut dapat tertutup sewaktu-waktu. Kongres dan regulator AS sedang mempertimbangkan perubahan klasifikasi aset kripto menjadi sekuritas. Jika itu terjadi, Wash-Sale Rule akan diberlakukan dan fleksibilitas tax-loss harvesting otomatis hilang.

Komentar Ahli Pajak Indonesia: Perspektif Yulianto Kiswocahyono

Ketua Komite Fiskal dan Moneter KADIN Jawa Timur, Yulianto Kiswocahyono, S.E., S.H., BKP, memberikan pandangan kritis terhadap fenomena tax-loss harvesting ini.

Menurutnya, strategi tersebut merupakan contoh nyata bagaimana kerugian investasi dapat digunakan secara legal untuk efisiensi pajak.

“Tax-loss harvesting menunjukkan bahwa kerugian tidak selalu menjadi kerugian murni. Dalam konteks perpajakan, kerugian dapat menjadi alat efisiensi yang sah. Namun fleksibilitas ini sangat bergantung pada klasifikasi aset. Jika suatu saat kripto ditetapkan sebagai sekuritas, ruang efisiensi ini langsung hilang,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan investor terhadap dinamika kebijakan global.

“Perubahan peraturan bisa datang cepat, baik di AS maupun di Indonesia. Investor wajib membaca arah kebijakan agar tidak kehilangan peluang atau bahkan tanpa sadar melanggar aturan,” ujarnya.

Kesimpulan: Koreksi Harga Tidak Selalu Buruk

Selama regulasi IRS belum berubah, tax-loss harvesting tetap menjadi strategi yang sah dan menguntungkan bagi investor kripto AS menjelang akhir tahun. Di tengah pasar yang tertekan, strategi ini memungkinkan investor untuk menata ulang portofolio sekaligus menekan beban pajak tahunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *