Karhutla Dekati Kampus UMB, Kabut Asap Ganggu Perkuliahan

banner 468x60

KawanJariNews.com – BARITO KUALA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) di kawasan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, kembali menjadi perhatian setelah kabut asap tebal menyelimuti area kampus pada Rabu (14/10/2026). Kondisi tersebut dilaporkan mengganggu aktivitas mahasiswa dan mendorong pihak kampus menyesuaikan kegiatan akademik dengan mempertimbangkan kesehatan serta keselamatan sivitas akademika. 

Asap dari kebakaran lahan di sekitar kampus di Jalan Gubernur Syarkawi, Handil Bakti, terlihat menyelimuti sejumlah area, termasuk kawasan parkir kendaraan mahasiswa. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi orang yang terpapar dalam waktu lama.

Kepala Biro Kesekretariatan UMB, Alfian Maurice, menyampaikan bahwa kabut asap tebal sempat mengganggu aktivitas kampus pada Rabu siang. Ia menyebut kondisi saat dikonfirmasi sudah relatif aman, tetapi pelaksanaan perkuliahan tetap menyesuaikan perkembangan situasi karhutla di sekitar kampus.

Menurut keterangan yang disampaikan kepada media setempat, pembelajaran daring diperkirakan tetap berlangsung sekitar satu hingga dua pekan ke depan, bergantung pada perkembangan kebakaran dan dampak asap. Pihak kampus juga menjelaskan bahwa sistem pembelajaran yang berjalan sebelumnya telah menggunakan metode hibrida, yakni kombinasi pembelajaran daring dan tatap muka.

Sementara itu, melalui informasi resmi yang dipublikasikan pada 13 Oktober 2026, UMBJM menyatakan telah menetapkan penyesuaian waktu kerja pegawai dan pelaksanaan pembelajaran daring sebagai respons terhadap kondisi kabut asap di Kalimantan Selatan. Kebijakan tersebut disebut mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan sivitas akademika serta tenaga kependidikan.

Persoalan karhutla di sekitar kampus merupakan bagian dari situasi kebakaran lahan yang lebih luas di Kalimantan Selatan. Berdasarkan rekapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan untuk periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, tercatat 4.926 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 27.202,97 hektare. Data tersebut disampaikan Kepala Pelaksana BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra, berdasarkan pemantauan di 13 kabupaten/kota.

Baca Juga  Kebakaran Truk Tangki BBM di SPBU Kemanggisan Jakbar, Satu Petugas Alami Luka Bakar

BPBD Kalsel juga mencatat 44.741 titik panas atau hotspot melalui pemantauan satelit. Titik panas merupakan indikasi yang terdeteksi melalui pemantauan dan tidak selalu identik dengan jumlah kejadian kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan.

Kabupaten Banjar menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 1.116 kejadian dengan luas lahan terdampak 7.054,12 hektare. Kota Banjarbaru mencatat 919 kejadian dengan luas 3.343,03 hektare, sedangkan Kabupaten Tanah Laut mencatat 731 kejadian dengan luas terdampak 3.551,98 hektare.

Angka tersebut menunjukkan besarnya skala penanganan karhutla di provinsi itu. Namun, data agregat tingkat provinsi tidak dengan sendirinya menjelaskan luas lahan yang terbakar di sekitar kampus UMBJM maupun penyebab kebakaran di lokasi tersebut. Informasi mengenai lokasi, luasan, sumber api, dan status penanganan setiap titik perlu merujuk pada keterangan petugas atau instansi berwenang.

Kabut asap akibat karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar. Paparan asap dapat menimbulkan iritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk kondisi kesehatan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan.

Penyesuaian pembelajaran menjadi salah satu langkah antisipatif untuk mengurangi aktivitas tatap muka ketika kondisi udara dinilai kurang mendukung. Meski demikian, keberlanjutan kebijakan tersebut perlu mengikuti evaluasi kondisi lapangan dan pengumuman resmi pihak kampus.

Dalam penanganan karhutla, koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, petugas pemadam, aparat terkait, pengelola lahan, dan masyarakat diperlukan untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran berulang. Pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi yang jelas kepada masyarakat juga penting agar warga dapat mengambil langkah perlindungan yang sesuai.

Kondisi di sekitar kampus UMBJM memperlihatkan bagaimana karhutla dapat berdampak langsung terhadap fasilitas pendidikan dan kegiatan masyarakat. Penanganan tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api, tetapi juga mencakup pencegahan, pengawasan kawasan rawan kebakaran, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan kesehatan masyarakat yang terdampak.

Baca Juga  Kebakaran Hebat Landa Pasar Taman Puring, Ratusan Kios Hangus Terbakar

Berdasarkan informasi resmi UMBJM, penyesuaian kegiatan kampus dilakukan dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan sivitas akademika. Sementara itu, data BPBD Kalsel hingga 14 Oktober 2026 menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan berskala luas di provinsi tersebut. Perkembangan kondisi di sekitar kampus dan kebijakan akademik selanjutnya perlu mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *