RS Hasan Sadikin Akui Kelalaian Prosedur, Kasus Nyaris Tertukarnya Bayi Picu Sorotan Publik

banner 468x60

KawanJariNews.com – BANDUNG – Insiden nyaris tertukarnya bayi baru lahir di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada 8 April 2026 memicu perhatian publik setelah diungkap oleh ibu pasien, Nina Saleha. Pihak rumah sakit mengakui adanya kelalaian dalam prosedur identifikasi bayi di ruang Neonatal High Care Unit (NHCU).

Perwakilan manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin, Rahim Dinata Marsidi, menjelaskan bahwa insiden terjadi dalam konteks persiapan kepulangan dua bayi yang telah dinyatakan stabil setelah menjalani perawatan fototerapi akibat hiperbilirubinemia.

Menurut Rahim, kedua bayi—termasuk bayi milik Nina Saleha—dijadwalkan pulang pada hari yang sama. Orang tua sebelumnya telah menerima edukasi pra-pulang, dan pada hari kejadian perawat shift pagi melakukan pendampingan, termasuk proses verifikasi awal dengan menunjukkan gelang identitas bayi.

Namun, dalam proses tersebut, Rahim mengakui terjadi kelalaian karena gelang identitas dilepas sebelum proses serah terima resmi dan sebelum dilakukan konfirmasi akhir kepada orang tua.“Pelepasan gelang identitas sebelum verifikasi akhir menjadi celah yang memungkinkan terjadinya potensi kesalahan identifikasi,” ujarnya.

Pihak rumah sakit menegaskan bahwa tidak ditemukan unsur kesengajaan atau tindakan kriminal dalam kejadian tersebut. Meski demikian, manajemen telah mengambil langkah awal berupa penonaktifan sementara petugas yang terlibat serta melakukan evaluasi internal terhadap prosedur pelayanan.

Insiden ini menjadi sorotan luas setelah diungkap oleh Nina Saleha melalui media sosial, yang menarik perhatian publik dengan jumlah penayangan yang signifikan.

Dalam keterangan sebelumnya, Nina menyampaikan kronologi berbeda dari sisi keluarga. Ia menyebut bahwa bayinya masih dalam masa perawatan di inkubator ketika insiden terjadi. Saat kembali ke ruang perawatan setelah keluar sejenak, ia mendapati bayinya tidak berada di tempat, melainkan telah berada di pangkuan seorang wanita yang tidak dikenalnya.

Baca Juga  Penertiban 72 Bangunan Liar di Bantaran Kalibaru, 72 Unit Dibongkar dalam Dua Hari

Nina juga mengungkap bahwa gelang identitas bayi dalam kondisi telah dilepas, sehingga tidak terdapat penanda resmi saat bayi berada di tangan pihak lain. Ia kemudian memastikan identitas bayinya secara langsung berdasarkan ciri fisik sebelum menyampaikan protes kepada petugas.

Lebih lanjut, Nina menyatakan bahwa petugas tidak segera melakukan verifikasi identitas secara menyeluruh saat kejadian berlangsung. Ia menduga proses penyerahan bayi hanya didasarkan pada pengakuan verbal tanpa pemeriksaan dokumen resmi atau prosedur verifikasi berlapis.

Kasus ini menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan pasien, khususnya dalam sistem identifikasi bayi baru lahir di fasilitas kesehatan. Gelang identitas merupakan komponen utama yang seharusnya tidak dilepas sebelum seluruh tahapan verifikasi selesai dilakukan.

Perbedaan narasi antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien juga menunjukkan perlunya transparansi serta sinkronisasi informasi dalam penanganan insiden medis. Hal ini menjadi penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.

Dari perspektif keselamatan pasien, insiden ini mengindikasikan perlunya penguatan sistem verifikasi berlapis, peningkatan pengawasan di ruang perawatan intensif bayi, serta evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme operasional dan pengendalian internal.

Selain itu, langkah respons berupa permohonan maaf dan penonaktifan sementara petugas dinilai sebagai bentuk tanggung jawab awal, namun masih memerlukan tindak lanjut berupa audit menyeluruh guna memastikan perbaikan sistemik.

Pihak RSUP Dr. Hasan Sadikin menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap prosedur pelayanan dan keselamatan pasien. Kasus ini diharapkan menjadi bahan pembelajaran untuk memperkuat standar pelayanan kesehatan serta mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *