KawanJariNews.com – Jakarta, 22 Oktober 2025 – Penelitian terbaru Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan partikel mikroplastik dalam air hujan di wilayah Jakarta. Temuan ini menunjukkan bahwa partikel tersebut berasal dari aktivitas manusia sehari-hari dan berpotensi mengancam kualitas udara serta sumber air di ibu kota.
Peneliti BRIN, Prof. Muhammad Reza Cordova, menjelaskan bahwa mikroplastik yang ringan dapat terbawa angin dan turun bersama hujan, menyebar ke udara, tanah, dan air tanah. Fenomena ini, menurutnya, merupakan bentuk baru dari pencemaran lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius.
“Partikel mikroplastik bisa berasal dari serat pakaian sintetis, debu kendaraan, hingga pembakaran sampah plastik. Saat terbawa angin dan turun bersama hujan, partikel-partikel ini menyebar luas ke berbagai media lingkungan,” ungkap Prof. Reza dalam keterangannya, Selasa (21/10/2025).
Berdasarkan hasil pengamatan, laju deposisi mikroplastik di udara Jakarta mencapai rata-rata sekitar 15 partikel per meter persegi per hari. Dengan demikian, satu rumah berukuran 100 meter persegi dapat menerima sekitar 1.500 partikel mikroplastik setiap hari. Meskipun dampak kesehatannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut, paparan mikroplastik di udara dapat meningkatkan risiko iritasi saluran pernapasan, stres oksidatif, hingga inflamasi.
Prof. Reza menjelaskan bahwa mikroplastik berperan sebagai polutan sekunder, yakni media bagi polutan lain seperti debu dan asap kendaraan untuk menempel. Hal ini dapat memperburuk kualitas udara dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia bila partikel tersebut terhirup atau tertelan.
Selain ditemukan di udara, mikroplastik juga telah terdeteksi di air tanah dangkal hingga kedalaman 5–10 meter, menimbulkan kekhawatiran terhadap sumber air minum. Jika pengolahan air tidak dilakukan dengan baik, mikroplastik dapat masuk ke rantai konsumsi manusia melalui air minum maupun makanan.
Penemuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik kini tidak hanya menjadi masalah lautan, tetapi juga mencemari atmosfer dan daratan perkotaan. Peningkatan aktivitas manusia di kota besar seperti Jakarta, terutama penggunaan plastik sekali pakai dan pembakaran sampah, mempercepat penyebaran partikel ini.
Sebagai langkah pencegahan, Prof. Reza merekomendasikan penggunaan masker berbahan katun yang lebih ramah lingkungan dibanding masker medis berbahan plastik sintetis. Ia juga mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghindari pembakaran sampah plastik agar tidak memperparah pencemaran udara.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Kita semua harus berperan aktif menjaga kebersihan udara dan sumber air dari ancaman mikroplastik. Ini bukan hanya isu lingkungan, tapi juga isu kesehatan masyarakat,” tegas Prof. Reza.
Baca juga: Kuasa Hukum Pertanyakan Respons Polres Metro Bekasi atas Aduan Dugaan Penggelapan Dana Perusahaan
















