Polda Metro Jaya Ungkap Pola Gerak Pelaku Lewat CCTV, Kasus Penyiraman Andrie Yunus Diduga Libatkan Empat Orang

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA – Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengungkap perkembangan penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), melalui analisis rekaman CCTV dan temuan forensik lapangan. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanudin, yang menyebut terdapat empat orang yang diduga terlibat, dengan dua orang diduga berperan sebagai pelaku utama di lapangan dan dua lainnya diduga berfungsi sebagai pengintai serta pendukung logistik.

Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, terus didalami oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Dalam pemaparan perkembangan penyelidikan, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanudin, menyampaikan bahwa penanganan perkara mengarah pada dugaan pola operasi yang terstruktur, setelah penyidik menganalisis sejumlah rekaman Closed-Circuit Television (CCTV) dari berbagai titik yang berkaitan dengan pergerakan korban dan para terduga pelaku.

Berdasarkan rangkaian rekaman yang dianalisis, Andrie Yunus terpantau memasuki lokasi kegiatan podcast sekitar pukul 19.00 WIB pada Kamis, 12 Maret 2026, di wilayah Jakarta. Setelah kegiatan selesai, korban diketahui keluar dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekitar pukul 19.30 hingga 20.00 WIB.

Penyidik kemudian menelusuri pergerakan korban setelah meninggalkan lokasi tersebut. Dalam rekaman CCTV, satu unit sepeda motor yang berboncengan dua orang disebut mulai mengikuti korban secara sistematis. Pergerakan tersebut terpantau di beberapa titik, mulai dari area SPBU tempat korban sempat mengisi bahan bakar, sepanjang rute perjalanan, hingga mendekati lokasi kejadian perkara (TKP).

Dua Orang Diduga Berperan sebagai Eksekutor

Dalam analisis visual yang dipaparkan, Kombes Iman Imanudin menyebut polisi menduga dua orang yang berboncengan dalam satu sepeda motor memiliki peran langsung dalam pelaksanaan aksi di lapangan. Satu orang diduga bertugas sebagai pengendara, sementara satu lainnya diduga berada di posisi boncengan belakang dan diduga melakukan penyiraman cairan korosif terhadap korban.

Baca Juga  Abolisi vs Amnesti: Apa Bedanya dan Mengapa Presiden Perlu Pertimbangan DPR?

Selain itu, dari hasil penelusuran lebih lanjut, penyidik juga mengaitkan keberadaan unit motor lain yang diduga bergerak dalam pola terkoordinasi. Motor kedua ini diduga memiliki fungsi pengintaian atau pengawasan situasi, sehingga total pihak yang diduga terlibat dalam rangkaian aksi disebut berjumlah empat orang.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut bukan tindakan spontan, melainkan diduga telah melalui pengamatan, pembagian peran, dan koordinasi lapangan.

Rekaman CCTV Ungkap Pola Pakaian dan Pergerakan Pelaku

Dalam penjelasannya, Kombes Iman Imanudin juga mengungkap adanya kemiripan kuat dari sisi visual antara rekaman sebelum kejadian dan saat insiden berlangsung. Dalam rekaman yang disebut terekam pada pukul 17.18 WIB dan 17.22 WIB, terlihat dua laki-laki yang mengenakan kemeja batik biru di bagian luar dan kaos merah di bagian dalam.

Ciri pakaian tersebut kemudian disebut konsisten dengan penampilan yang terlihat dalam rekaman pada malam hari menjelang kejadian. Polisi menilai kesamaan pakaian menjadi salah satu petunjuk penting dalam membangun kesinambungan identifikasi terhadap para terduga pelaku.

Dalam pengembangan analisis, setelah insiden terjadi, salah satu terduga pelaku juga disebut terekam tidak lagi mengenakan kemeja batik biru, melainkan hanya kaos merah. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pakaian luar tersebut dilepas setelah aksi, diduga karena terkena percikan cairan korosif.

Penyidik juga mengungkap adanya rekaman lanjutan yang memperlihatkan para terduga pelaku sempat berhenti di kawasan Jalan Diponegoro dan diduga membersihkan diri menggunakan air mineral. Detail ini dinilai menjadi petunjuk tambahan bahwa cairan yang digunakan berisiko tinggi dan kemungkinan juga berdampak pada pelaku saat kejadian.

Barang Bukti Fisik Diamankan, Termasuk Helm di Sekitar TKP

Selain mengandalkan rekaman CCTV, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti fisik dari sekitar lokasi kejadian. Salah satu yang disebut signifikan adalah helm yang diduga digunakan salah satu terduga pelaku dan ditemukan di sekitar TKP.

Baca Juga  Advokat Donny Andretti, Sosok Ketua Umum FERADI WPI yang Dikenal Berani, Loyal, dan Totalitas Membela Klien

Menurut keterangan yang disampaikan Kombes Iman Imanudin, barang bukti tersebut saat ini sedang menjalani pemeriksaan laboratoris untuk menelusuri kemungkinan adanya jejak biologis, seperti DNA atau sidik jari, serta kemungkinan residu kimia yang dapat dikaitkan dengan peristiwa penyiraman.

Temuan helm ini dinilai penting karena berpotensi menjadi penghubung langsung antara pelaku dengan lokasi kejadian, sekaligus memperkuat konstruksi pembuktian apabila dikaitkan dengan bukti visual dan keterangan saksi.

Polisi Tegaskan Rekaman CCTV Tidak Dimanipulasi

Dalam perkembangan penanganan perkara, kepolisian juga menegaskan bahwa seluruh rekaman CCTV yang dipublikasikan dalam proses penyelidikan merupakan rekaman asli hasil pengambilan langsung dari kamera pengawas, dan tidak melalui modifikasi digital, manipulasi grafis, maupun rekayasa berbasis AI.

Penegasan tersebut disampaikan untuk menjaga integritas alat bukti di tengah berkembangnya spekulasi di ruang publik. Dengan demikian, polisi berupaya memastikan bahwa bukti yang dijadikan dasar analisis tetap memiliki integritas forensik dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Penyidik juga disebut telah melakukan penguatan kualitas gambar dari sejumlah rekaman untuk membantu proses identifikasi wajah, terutama terhadap salah satu terduga pelaku yang berada di posisi boncengan belakang.

Pengungkapan Masih Berlanjut

Meski pola gerak, ciri visual, dan dugaan pembagian peran para terduga pelaku mulai terpetakan, penyidik masih melanjutkan proses pengembangan untuk menelusuri motif, hubungan antarpelaku, serta kemungkinan adanya pihak lain di balik perencanaan aksi.

Dalam keterangannya, Kombes Iman Imanudin menegaskan bahwa proses penyidikan masih berjalan untuk memastikan identitas seluruh pihak yang diduga terlibat, sekaligus memperkuat alat bukti dalam perkara tersebut.

Kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus menjadi perhatian publik karena menyasar seorang aktivis yang dikenal aktif dalam advokasi hak asasi manusia melalui KontraS. Dalam konteks perlindungan ruang sipil, peristiwa ini dinilai menimbulkan perhatian serius terhadap aspek keamanan bagi pembela HAM dan kelompok masyarakat sipil yang menjalankan fungsi kontrol sosial.

Baca Juga  Advokat Ajukan Pengaduan ke Mabes Polri Terkait Penanganan Perkara Siber di Polda Metro Jaya

Pengungkapan melalui rekaman CCTV dan barang bukti fisik menunjukkan bahwa penyidikan tidak hanya bertumpu pada keterangan verbal, tetapi juga menggunakan pendekatan scientific crime investigation melalui penelusuran digital, jejak visual, serta pemeriksaan laboratorium.

Keberhasilan penyidik dalam menelusuri pola gerak pelaku melalui rekaman CCTV dinilai menjadi elemen penting untuk mengungkap peran masing-masing pihak, termasuk kemungkinan adanya pihak lain di luar pelaku lapangan.

Hingga perkembangan terakhir yang disampaikan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanudin, pola gerak para terduga pelaku dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus mulai terpetakan melalui kombinasi rekaman CCTV, temuan barang bukti, dan analisis forensik lapangan.

Polda Metro Jaya menyampaikan proses pengungkapan masih terus berjalan untuk memastikan identitas seluruh pihak yang diduga terlibat, memperkuat pembuktian ilmiah, serta menelusuri kemungkinan adanya pihak lain di luar pelaku lapangan.

Perkembangan ini menjadi bagian penting dalam upaya penegakan hukum yang diharapkan tidak hanya mengungkap pelaku eksekutor, tetapi juga memberikan kejelasan menyeluruh atas motif, pola operasi, dan jaringan yang mungkin terlibat dalam serangan terhadap aktivis HAM tersebut.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *