KawanJariNews.com – JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan tajam pada awal perdagangan Senin (9/3/2026), hingga menembus level Rp17.019 per dolar AS. Angka tersebut menjadi titik terendah sepanjang sejarah perdagangan rupiah di pasar keuangan Indonesia, melampaui level tekanan yang pernah terjadi pada krisis moneter 1998 maupun saat gejolak pandemi 2020.
Pelemahan rupiah tercatat sebesar sekitar 0,56 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan Jumat sebelumnya yang berada di kisaran Rp16.925 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar ini terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global serta tekanan ekonomi domestik yang memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Di pasar valuta asing domestik, pergerakan rupiah dipantau oleh otoritas moneter melalui Bank Indonesia yang memiliki mandat menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Pelemahan mata uang nasional tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang negara berkembang.
Sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan global. Salah satunya adalah penilaian lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings yang menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi negatif. Penurunan prospek tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap risiko ekonomi domestik dan berpotensi memengaruhi aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Selain itu, sejumlah indikator fundamental ekonomi juga menjadi sorotan pasar, termasuk rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang dalam satu dekade terakhir berada di kisaran 9–10 persen. Angka ini dinilai relatif rendah dibandingkan rata-rata negara berkembang lainnya yang memiliki rasio pajak lebih tinggi untuk mendukung stabilitas fiskal.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global, terutama di jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Lonjakan harga energi global meningkatkan biaya impor bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan meningkatkan ekspektasi inflasi domestik.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan bersifat fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah dapat bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp17.010 per dolar AS selama tekanan global dan domestik belum mereda.
Pelemahan rupiah memiliki sejumlah implikasi terhadap perekonomian nasional, antara lain meningkatnya biaya impor, bertambahnya beban utang luar negeri pemerintah maupun korporasi, serta potensi kenaikan harga barang yang bergantung pada bahan baku impor. Di sisi lain, depresiasi nilai tukar dapat memberikan dampak positif bagi sektor ekspor karena produk domestik menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Secara historis, level Rp17.000 per dolar AS juga memiliki makna psikologis bagi pelaku pasar karena sebelumnya nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan berat pada masa krisis keuangan Asia tahun 1998 serta saat gejolak ekonomi global pada awal pandemi COVID-19 tahun 2020.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini menunjukkan sensitivitas pasar keuangan Indonesia terhadap dinamika global dan kondisi fundamental domestik. Otoritas moneter dan fiskal diharapkan terus memantau perkembangan pasar serta menyiapkan langkah kebijakan yang diperlukan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.















