Ratusan Pencari Kerja Antre di Jakarta Job Fest, Batas Usia Jadi Kendala Utama

banner 468x60

KawanJariNews.com – Jakarta, 18 September 2025 – Ratusan pencari kerja memadati ajang Jakarta Job Fest di ibu kota. Dalam situasi ekonomi yang sulit, banyak masyarakat tetap berusaha mencari peluang melalui event rekrutmen kerja ini. Perusahaan dari berbagai sektor, mulai dari ritel, manufaktur, perbankan, hingga teknologi dan keuangan turut membuka lowongan.

Namun, di balik antusiasme tersebut, para pelamar menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah syarat usia maksimal 40 tahun yang banyak diberlakukan perusahaan. Aturan ini dinilai mempersempit peluang kerja bagi generasi yang lebih tua meski memiliki pengalaman dan kompetensi yang memadai.

“Saya sudah berusia 43 tahun dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang administrasi. Tapi hampir semua lowongan yang saya temui mencantumkan syarat maksimal 40 tahun. Rasanya tidak adil, karena pengalaman kami seakan tidak dihargai,” ungkap Rini, salah satu pencari kerja yang hadir di Jakarta Job Fest.

Fenomena ini mempertegas kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia yang masih penuh ketidakpastian. Banyak pekerja yang terjebak dalam fenomena job haging, yakni bertahan di pekerjaan yang tidak memuaskan hanya demi keamanan finansial.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan indeks ketersediaan lapangan kerja menurun selama empat bulan berturut-turut, berada di bawah angka 100 yang menandakan pesimisme masyarakat terhadap pasar tenaga kerja.

Kondisi sulit juga memaksa banyak lulusan perguruan tinggi beralih ke sektor informal, seperti menjadi sopir ojek online. Salah satunya adalah Yunan, lulusan sarjana komunikasi, yang sejak 2015 terpaksa bekerja sebagai pengemudi ojek online. “Awalnya saya berharap bisa bekerja di kantor sesuai bidang kuliah saya, tapi kenyataannya berbeda. Faktor usia dan minimnya lowongan jadi kendala utama,” ujar Yunan.

Baca Juga  Ormas dan LSM Ajukan Hearing ke DPRD Banyuwangi Terkait Dugaan 9 Gerai Mr. DIY Tak Miliki Izin

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran nasional meningkat menjadi 7,28 juta orang. Meski begitu, tingkat pengangguran terbuka justru menurun ke angka 4,76 persen. Hal ini menunjukkan sebagian besar pencari kerja memilih tidak lagi aktif mencari pekerjaan karena keterbatasan peluang.

Selain sarjana, lulusan diploma dan SMK juga menghadapi masalah serupa. Data BPS mencatat lebih dari 1 juta lulusan diploma dan 1,62 juta lulusan SMK masih menganggur, menandakan ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri masih menjadi persoalan serius.

Hingga kini, tantangan pasar kerja Indonesia terus menjadi sorotan. Para pencari kerja berharap adanya kebijakan yang lebih inklusif, termasuk soal batas usia, agar kesempatan mendapatkan pekerjaan lebih terbuka bagi semua kalangan.

Baca juga: Kelangkaan BBM, Karyawan SPBU Shell Terpaksa Berjualan Es Kopi

Baca juga: Kelangkaan BBM di SPBU Swasta Sejak Akhir Agustus, Kebijakan Impor Satu Pintu Pertamina Tuai Sorotan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *