Bank Dunia Soroti Penyusutan Kelas Menengah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai sekitar 5,6 persen secara tahunan menurut laporan Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 yang diterbitkan Bank Dunia. Namun di tengah capaian tersebut, Bank Dunia menyoroti fenomena menyusutnya jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir meskipun aktivitas ekonomi terus bertumbuh.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didorong oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta peningkatan belanja pemerintah. Di sisi lain, perkembangan jumlah penduduk yang masuk kategori kelas menengah justru bergerak ke arah yang berbeda.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk kelas menengah Indonesia pada 2019 tercatat mencapai 57,33 juta orang atau sekitar 21,45 persen dari total populasi. Namun pada 2024 jumlah tersebut turun menjadi 47,85 juta orang atau sekitar 17,13 persen dari total penduduk.

Dengan demikian, dalam kurun waktu lima tahun Indonesia mengalami penurunan jumlah penduduk kelas menengah sebanyak sekitar 9,48 juta orang.

Menurut penjelasan BPS, sebagian besar masyarakat yang keluar dari kelompok kelas menengah tidak serta-merta masuk ke kategori miskin. Banyak di antaranya bergeser ke kelompok yang dikenal sebagai aspiring middle class atau masyarakat menuju kelas menengah.

Kelompok ini masih memiliki kemampuan konsumsi dan pendapatan yang relatif memadai, tetapi lebih rentan terhadap berbagai tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, kehilangan pekerjaan, maupun perlambatan ekonomi.

Dalam laporan terbarunya, Bank Dunia menilai penyusutan kelas menengah tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya penciptaan lapangan kerja. Sebaliknya, lapangan kerja terus bertambah seiring pertumbuhan ekonomi.

Namun, lembaga tersebut menyoroti bahwa sebagian besar pekerjaan yang tercipta belum mampu menghasilkan produktivitas dan tingkat pendapatan yang cukup tinggi untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Baca Juga  Perpanjangan Insentif Properti Disuarakan, Konsultan Pajak: Perlu Dibatasi dan Dievaluasi

Bank Dunia menyebut terdapat ketidaksesuaian struktural dalam perekonomian Indonesia. Kondisi tersebut menggambarkan situasi ketika pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan pekerjaan baru, tetapi belum cukup banyak menghasilkan pekerjaan yang dapat mendorong pekerja masuk atau bertahan dalam kelompok kelas menengah.

Temuan lain yang disampaikan Bank Dunia menunjukkan adanya penurunan proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan setara kelas menengah. Pada 2018, sekitar 14,5 persen pekerja Indonesia memiliki tingkat pendapatan yang masuk kategori kelas menengah. Namun pada 2025 angka tersebut turun menjadi sekitar 7 persen.

Artinya, dalam rentang tujuh tahun, proporsi pekerja yang menikmati pendapatan pada level kelas menengah mengalami penurunan hampir separuh.

Selain itu, Bank Dunia mencatat upah riil pekerja berketerampilan menengah dan tinggi mengalami penurunan sekitar satu hingga dua persen per tahun sejak 2018. Sementara hampir setengah dari lapangan kerja baru yang tercipta berasal dari sektor-sektor dengan produktivitas relatif rendah, seperti pertanian, akomodasi, serta jasa makanan dan minuman.

Menurut Bank Dunia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas pekerjaan maupun peningkatan pendapatan masyarakat secara luas.

Fenomena tersebut dinilai dapat menjelaskan mengapa sebagian masyarakat masih merasakan tekanan ekonomi meskipun indikator makroekonomi menunjukkan pertumbuhan yang positif. Masyarakat tetap memiliki pekerjaan dan penghasilan, tetapi kemampuan untuk menabung, berinvestasi, atau meningkatkan taraf hidup menjadi lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

Kelompok kelas menengah selama ini dikenal sebagai salah satu penggerak utama konsumsi domestik Indonesia. Tingkat konsumsi kelompok ini berkontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi nasional, mulai dari sektor perdagangan, jasa, pendidikan, hingga properti.

Karena itu, penyusutan jumlah kelas menengah menjadi perhatian berbagai kalangan ekonomi. Jika tren tersebut berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi mengalami tekanan yang pada akhirnya dapat memengaruhi ketahanan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.

Baca Juga  Kompolnas Pantau Ketat Gelar Perkara Dugaan Ijazah Palsu Jokowi, Dorong Transparansi dan Akuntabilitas

Temuan Bank Dunia juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan kualitas lapangan kerja, produktivitas tenaga kerja, pengembangan keterampilan, serta penciptaan sektor ekonomi bernilai tambah tinggi agar pertumbuhan ekonomi dapat lebih merata dirasakan oleh masyarakat.

Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah masyarakat kelas menengah. Oleh karena itu, selain mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi, perhatian terhadap kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, dan mobilitas ekonomi masyarakat menjadi faktor penting dalam menilai keberhasilan pembangunan nasional ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *