KawanJariNews.com – 7 Januari 2026 — Program Magister (S2) Ilmu Hukum Universitas MPU Tantular kembali menghadirkan inovasi dalam metode pembelajaran dengan menyelenggarakan perkuliahan luring di luar ruang kelas formal. Kali ini, kegiatan akademik tersebut digelar di Telaga Café, Cibubur, dengan konsep dialogis dan humanis yang memadukan diskusi ilmiah, makan bersama, serta hiburan musik ringan.
Pendekatan ini dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang lebih cair, egaliter, dan partisipatif, sekaligus mendorong keterlibatan aktif mahasiswa tanpa mengurangi bobot akademik pendidikan hukum pada jenjang magister. Model pembelajaran kontekstual tersebut dinilai mampu membangun kedekatan emosional sekaligus memperkaya proses diskursus akademik.
Kuliah Politik Hukum dalam Ruang Dialog Setara
Perkuliahan tersebut diasuh oleh Dr. Panti Silaban, praktisi hukum sekaligus politisi yang aktif mengajar di lingkungan akademik. Dalam pengantarnya, Dr. Panti Silaban menekankan pentingnya menghadirkan ruang dialog yang setara antara dosen dan mahasiswa sebagai bagian dari pendidikan hukum tingkat magister.
Menurutnya, pembelajaran hukum tidak cukup hanya berfokus pada pemahaman norma dan pasal, tetapi harus mampu membentuk cara berpikir kritis serta keberanian intelektual mahasiswa dalam menguji gagasan dan kebijakan publik secara rasional dan bertanggung jawab.
“Pendidikan magister hukum tidak boleh berhenti pada penguasaan teks undang-undang. Mahasiswa harus dibiasakan berdialog, menguji argumen, dan berani mempertanyakan kebijakan publik dengan dasar pemikiran yang logis dan bertanggung jawab. Hukum selalu berkelindan dengan kekuasaan dan politik,” ujar Dr. Panti.
Perdebatan Pemilihan DPRD sebagai Isu Ketatanegaraan
Tema utama yang dibahas dalam perkuliahan tersebut adalah mekanisme pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Diskusi difokuskan pada pertanyaan mendasar apakah DPRD lebih tepat dipilih secara langsung oleh rakyat sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, atau ditentukan oleh pemerintah pusat demi efektivitas dan stabilitas pemerintahan.
Isu tersebut dibedah dari berbagai perspektif, mulai dari konstitusionalitas, prinsip demokrasi, otonomi daerah, hingga praktik politik yang berkembang di Indonesia. Melalui diskursus tersebut, mahasiswa diajak memahami implikasi hukum dan politik dari setiap pilihan desain sistem ketatanegaraan.
Dr. Panti menilai perdebatan ini sebagai diskursus konstitusional yang strategis dan relevan. “Ini bukan sekadar soal preferensi politik, tetapi menyangkut desain demokrasi, kedaulatan rakyat, dan masa depan otonomi daerah. Di sinilah mahasiswa hukum diuji untuk berpikir objektif dan berimbang,” katanya.
Metode Interaktif Dorong Keberanian Intelektual
Suasana nonformal Telaga Café dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong partisipasi aktif mahasiswa pascasarjana Ilmu Hukum. Melalui metode dialog interaktif, mahasiswa didorong menyampaikan pandangan, mengkritisi argumentasi, serta menanggapi perbedaan pendapat secara etis dan rasional.
Pendekatan ini dinilai efektif dalam membangun keberanian intelektual, kejujuran berpikir, serta budaya akademik yang hidup dan reflektif. Diskusi berlangsung dinamis dengan tetap menjunjung tinggi etika akademik dan sikap saling menghargai antar peserta.
Penyerahan Plakat sebagai Bentuk Apresiasi Akademik
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, mahasiswa dan mahasiswi Program Magister Ilmu Hukum Universitas MPU Tantular Angkatan 2025 menyerahkan plakat penghargaan kepada Dr. Panti Silaban. Plakat tersebut diberikan sebagai ungkapan terima kasih dan apresiasi atas dedikasi serta kontribusinya dalam penyampaian materi Kuliah Politik Hukum yang dilaksanakan pada 6 Januari 2026 di Telaga Seafood, Cibubur.
Penghargaan tersebut diterima dengan penuh rasa syukur sebagai simbol penghormatan akademik dari mahasiswa pascasarjana kepada dosen pengampu.
Apresiasi bagi Panitia dan Mahasiswa Pascasarjana
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Panti Silaban menyampaikan apresiasi kepada panitia penyelenggara atas kerja kolektif dan persiapan kegiatan yang dinilai tertib, matang, dan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa keberhasilan kegiatan akademik tidak terlepas dari kekompakan dan dedikasi panitia.
Ia juga mengapresiasi antusiasme serta kedewasaan mahasiswa pascasarjana Ilmu Hukum dalam berdiskusi. Menurutnya, keberanian mahasiswa dalam menyampaikan pendapat serta sikap saling menghargai dalam perbedaan pandangan mencerminkan etika akademik yang baik.
“Saya melihat keberanian intelektual mahasiswa dan etika berdiskusi yang sangat positif. Perbedaan pandangan disampaikan secara rasional dan saling menghormati, inilah budaya akademik yang harus terus dijaga,” ujarnya.
Profil Singkat Dr. Panti Silaban
Dr. Panti Silaban, S.Kom., S.H., M.H., merupakan praktisi hukum atau pengacara sekaligus politisi yang aktif di bidang pendidikan hukum. Ia meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Kristen Indonesia pada Oktober 2023 melalui disertasi yang mengkaji regulasi organisasi kemasyarakatan.
Latar belakang akademiknya mencakup Sarjana Ilmu Komputer, Sarjana Hukum, dan Magister Hukum. Selain mengajar, Dr. Panti juga aktif mengikuti berbagai forum dan pelatihan hukum, termasuk kegiatan akademik di Mahkamah Konstitusi, yang memperkaya perspektif konstitusional dalam setiap perkuliahannya.
Pembelajaran Kontekstual sebagai Arah Pendidikan Magister
Menutup kegiatan, Dr. Panti Silaban berharap model pembelajaran dialogis dan kontekstual seperti ini dapat terus dikembangkan di lingkungan Universitas MPU Tantular. Menurutnya, pendidikan magister hukum sejatinya tidak hanya bertujuan menghasilkan lulusan bergelar akademik, tetapi juga membentuk insan hukum yang memiliki cara berpikir kritis, integritas moral, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
“Pendidikan hukum adalah proses pembentukan karakter dan cara berpikir. Gelar itu penting, tetapi integritas dan tanggung jawab sebagai insan hukum jauh lebih utama,” pungkasnya.












