kawanjarinews.com – Ketahanan pangan menjadi isu strategis yang terus relevan bagi Indonesia, terutama di tengah ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh faktor geopolitik, perubahan iklim, dan dampak pandemi COVID-19. Dalam konteks ini, pertanyaan besar muncul: mampukah Indonesia mencapai kemandirian pangan di tengah tantangan yang semakin kompleks?
Kondisi Ketahanan Pangan Saat Ini
Menurut Prof. Hermanto Siregar dari IPB University, kondisi ekonomi global pada tahun 2025 diperkirakan akan mempengaruhi sektor pertanian Indonesia. Beliau menekankan bahwa “sektor pertanian harus memiliki peningkatan produksi yang signifikan, baik untuk tanaman pangan, hortikultura, kelapa sawit, karet dan lainnya” guna menghadapi tantangan ekonomi tersebut. (Sumber: Radarcom.id)
Sementara itu, Prof. Achmad Suryana dalam penelitiannya mengidentifikasi beberapa tantangan utama:
- Persaingan pemanfaatan sumber daya alam,
- Dampak perubahan iklim global,
- Dominasi usahatani skala kecil,
- Pertumbuhan penduduk yang tinggi,
- Perubahan selera konsumen,
- Persaingan permintaan komoditas pangan untuk konsumsi manusia, pakan, dan bahan baku energi.
Komitmen Pemerintah dalam Pertanian Berkelanjutan
- Strategi Pertanian Berkelanjutan – Prof. Bustanul Arifin dari Universitas Lampung menyoroti pentingnya komitmen pemerintah dalam mengembangkan strategi pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim. Dalam Kongres XIX & Konfernas XX PERHEPI, beliau menekankan perlunya adopsi teknologi pertanian cerdas, penerapan pertanian presisi, serta reformasi kelembagaan penyuluhan dan riset pertanian guna meningkatkan produktivitas sektor pertanian. (Sumber: Radarcom.id, PPID Lampung)
- Peluncuran FAST Programme – Pemerintah Indonesia berkolaborasi dengan Inggris dalam meluncurkan Forest, Agriculture, and Sustainable Trade (FAST) Programme. Program ini bertujuan meningkatkan keberlanjutan sektor pertanian serta daya saing komoditas Indonesia di pasar global. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa program ini dirancang untuk mendukung petani kecil dalam menghadapi tantangan agribisnis modern melalui akses pembiayaan dan teknologi yang lebih baik. (Sumber: ekon.go.id)
- Inovasi Pertanian Adaptif terhadap Perubahan Iklim – Kementerian Pertanian mendorong riset dan teknologi dalam menghadapi perubahan iklim melalui konsep Pertanian Cerdas Iklim Inovatif (PCII). Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menekankan pentingnya riset dan teknologi dalam menghadapi anomali iklim yang semakin tidak terprediksi. (Sumber: ekonomi.republika.co.id)
- Sekolah Lapang Iklim (SLI) oleh BMKG – BMKG juga berperan aktif dalam mengedukasi petani melalui Sekolah Lapang Iklim (SLI). Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman petani tentang strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menekankan bahwa dengan pengetahuan ini, petani dapat menyusun rencana tanam yang lebih adaptif terhadap kondisi cuaca dan iklim yang berubah. (Sumber: bmkg.go.id)
Strategi Kebijakan Ketahanan Pangan 2024
Dr. I Ketut Kariyasa, Kepala Biro Perencanaan Kementerian Pertanian RI, menegaskan bahwa untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan, diperlukan empat program kerja utama. Pernyataan ini disampaikan dalam The 41st Strategic Talks: Outlook Pangan dan Pertanian Indonesia 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik (DKSRA) IPB University. (Sumber: IPB University)
Empat program kerja utama yang menjadi fokus dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional:
- Ketersediaan, Akses, dan Konsumsi Pangan Berkualitas – Memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan berkualitas bagi seluruh masyarakat, termasuk memperbaiki sistem distribusi dan akses pangan yang lebih merata.
- Peningkatan Nilai Tambah dan Daya Saing Industri – Pemerintah berupaya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian melalui pengolahan dan pengembangan industri berbasis pertanian. Langkah ini bertujuan agar produk pertanian lebih kompetitif di pasar domestik maupun global.
- Pendidikan dan Pelatihan Vokasi – Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertanian melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. Hal ini mencakup pelatihan bagi petani dalam penggunaan teknologi pertanian modern dan praktik pertanian berkelanjutan.
- Dukungan Manajemen – Program ini mencakup peningkatan efisiensi dalam tata kelola pertanian, termasuk penyempurnaan regulasi, penyederhanaan perizinan, dan optimalisasi anggaran untuk sektor pertanian. (Sumber: PVTPP Kementan)
Para pakar sepakat bahwa dengan strategi yang tepat dan kolaborasi antar pemangku kepentingan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai kemandirian pangan. Diperlukan penyesuaian kebijakan pembangunan ketahanan pangan dalam menetapkan tujuan, cara mencapainya, serta menentukan sasaran yang tepat guna menghadapi dinamika pasar global dan perubahan iklim.
(Sumber: Radarcom.id, PPID Lampung, ekon.go.id, ekonomi.republika.co.id, bmkg.go.id, IPB University, PVTPP Kementan).










