Apa Itu Hantavirus? Kenali Penularan, Gejala, dan Strategi Pencegahan di Indonesia

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA – Pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus menyusul meningkatnya perhatian global terhadap penyakit zoonotik yang ditularkan melalui hewan pengerat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa meskipun jumlah kasus di Indonesia masih tergolong rendah, masyarakat perlu memahami pola penularan, gejala, serta langkah pencegahan penyakit tersebut guna meminimalkan risiko penyebaran dan keterlambatan penanganan medis.

Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik yang secara alami hidup dan berkembang pada hewan pengerat, terutama tikus liar. Virus ini dapat menular kepada manusia melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Di Indonesia, jenis Hantavirus yang paling banyak terdeteksi adalah Seoul virus, yang umumnya ditemukan pada tikus spesies Rattus norvegicus dan Rattus rattus. Berbeda dengan beberapa varian di Amerika Selatan yang dilaporkan memiliki potensi penularan antarmanusia, Hantavirus yang ditemukan di Indonesia hingga saat ini masih bersifat zoonotik murni, yakni ditularkan dari hewan ke manusia.

Kemenkes menjelaskan bahwa penularan paling umum terjadi melalui inhalasi partikel udara yang terkontaminasi virus. Partikel tersebut biasanya muncul ketika urine atau kotoran tikus yang telah mengering teraduk saat seseorang membersihkan gudang, menyapu ruangan tertutup, atau memasuki area yang lama tidak digunakan.

Selain melalui udara, penularan juga dapat terjadi akibat kontak langsung dengan permukaan yang tercemar, kemudian tangan menyentuh area mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Meski kasus gigitan tikus relatif jarang dilaporkan, kondisi tersebut tetap dinilai berisiko menyebabkan penularan.

Pemerintah menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah kuat yang menunjukkan penularan Hantavirus melalui konsumsi makanan maupun air secara langsung, serta tidak ditemukan penularan melalui gigitan serangga.

Baca Juga  Penonaktifan 11 Juta Peserta PBI BPJS Kesehatan Picu Kegaduhan Nasional, Ini Klarifikasi Resmi

Secara klinis, gejala awal Hantavirus kerap menyerupai penyakit infeksi umum lainnya sehingga berpotensi menyulitkan diagnosis dini. Gejala yang paling sering muncul antara lain demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala hebat, tubuh lemas, mual, muntah, hingga nyeri perut.

Dalam beberapa kasus, kondisi pasien dapat memburuk dalam waktu singkat dan berkembang menjadi gangguan organ serius, terutama pada ginjal dan sistem pernapasan. Pasien dapat mengalami penurunan fungsi ginjal, gangguan pembekuan darah, edema paru, hingga syok akibat kebocoran pembuluh darah.

Di Indonesia, pola penyakit yang lebih dominan ditemukan adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu sindrom demam berdarah yang disertai gangguan ginjal. Kondisi ini berbeda dengan Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sejak 2024 hingga pertengahan 2026 terdapat 23 kasus positif Hantavirus di Indonesia, dengan tiga kasus dilaporkan meninggal dunia. Dari total 251 kasus suspek yang diperiksa, sebagian besar dinyatakan negatif setelah menjalani pemeriksaan laboratorium lanjutan.

Kemenkes menyatakan bahwa diagnosis Hantavirus tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan gejala klinis karena memiliki kemiripan dengan sejumlah penyakit lain seperti demam berdarah dengue, leptospirosis, maupun influenza berat. Pemeriksaan konfirmasi masih mengandalkan metode RT-PCR dan pemeriksaan antibodi di laboratorium rujukan nasional.

Saat ini, Indonesia belum memiliki rapid test komersial khusus untuk Hantavirus yang dapat digunakan secara luas di fasilitas kesehatan dasar. Oleh karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk meningkatkan kesiapan laboratorium, termasuk pengadaan reagen spesifik dan penguatan sistem surveilans epidemiologi.

Dalam upaya pencegahan, pemerintah menekankan pentingnya pengendalian populasi tikus sebagai langkah utama. Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, menutup celah rumah yang menjadi akses masuk tikus, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup rapat.

Baca Juga  Presiden Prabowo Teken PP Penghargaan untuk Justice Collaborator, Dorong Pengungkapan Kejahatan Terorganisir

Pembersihan area yang berpotensi terkontaminasi juga diminta dilakukan dengan prosedur aman. Kemenkes menyarankan masyarakat tidak menyapu kotoran tikus dalam kondisi kering karena dapat memicu penyebaran partikel virus ke udara. Sebelum dibersihkan, area tersebut dianjurkan disemprot menggunakan cairan desinfektan berbasis klorin atau alkohol 70 persen.

Penggunaan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, dan pelindung mata juga disarankan saat membersihkan gudang, loteng, atau ruangan tertutup yang berisiko menjadi sarang tikus.

Kelompok rentan seperti lansia, bayi, anak-anak, serta penderita penyakit kronis diminta lebih waspada apabila mengalami gejala demam disertai riwayat paparan lingkungan dengan populasi tikus tinggi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi isu Hantavirus. Organisasi profesi tersebut menegaskan bahwa karakteristik penularan Hantavirus berbeda dengan COVID-19 karena tidak mudah menular antarmanusia.

Pemerintah menilai edukasi publik berbasis informasi ilmiah menjadi langkah penting dalam mencegah kepanikan dan penyebaran informasi yang tidak akurat. Kemenkes bersama dinas kesehatan daerah, organisasi profesi, dan fasilitas pelayanan kesehatan terus memperkuat sosialisasi mengenai pola penularan, gejala, serta langkah pencegahan penyakit zoonotik tersebut.

Melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, pemerintah berharap ketahanan kesehatan masyarakat terhadap ancaman penyakit zoonotik dapat terus diperkuat di tengah meningkatnya mobilitas dan perubahan lingkungan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *