KawanJariNews.com – Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kembali memanas pada awal Maret 2026 setelah serangkaian serangan udara dilancarkan terhadap sejumlah target militer di Iran. Perang yang dimulai pada akhir Februari 2026 tersebut kini memasuki hari-hari awal eskalasi dengan korban jiwa yang terus bertambah dan situasi keamanan kawasan Timur Tengah semakin tidak stabil.
Dilansir dari Tirto.id, konflik terbaru ini bermula setelah serangan udara terkoordinasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah fasilitas strategis Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Iran melancarkan serangan balasan terhadap target militer dan kepentingan sekutu Barat di kawasan, termasuk instalasi militer dan kapal di wilayah Timur Tengah.
Menurut laporan MetroTVNews, serangan udara tersebut terus berlanjut selama beberapa hari dengan target berupa pusat keamanan, fasilitas militer, dan instalasi rudal di beberapa kota besar Iran seperti Teheran dan Isfahan. Serangan ini disebut sebagai bagian dari operasi militer untuk melemahkan kemampuan pertahanan Iran di kawasan.
Dilansir dari Washington Post yang dikutip berbagai media internasional, militer Israel menyatakan bahwa serangan udara menyasar pusat komando keamanan internal Iran, gudang rudal, hingga fasilitas logistik militer. Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan besar terjadi di beberapa wilayah ibu kota serta kota-kota lain yang menjadi target serangan.
Menurut laporan CNBC Indonesia, konflik tersebut telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Sejumlah laporan menyebutkan korban tewas telah mencapai ratusan hingga mendekati seribu orang sejak serangan pertama terjadi. Angka tersebut masih bersifat sementara karena proses evakuasi dan verifikasi korban masih berlangsung di berbagai wilayah terdampak.
Dilansir dari Reuters, penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyoroti dampak kemanusiaan dari konflik ini. Dalam laporan awal, investigasi independen menyebut serangan militer yang terjadi berpotensi melanggar prinsip Piagam PBB yang melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas wilayah suatu negara. Laporan tersebut juga mengungkap adanya serangan yang mengenai fasilitas sipil, termasuk sebuah sekolah di wilayah selatan Iran.
Menurut laporan Liputan6.com, konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi membawa dampak luas terhadap stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi dan pariwisata di kawasan Timur Tengah. Negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab diperkirakan mengalami penurunan signifikan dalam kunjungan wisata internasional akibat meningkatnya risiko keamanan.
Selain dampak ekonomi, konflik ini juga memicu ketegangan geopolitik yang lebih luas. Dilansir dari Detik.com, pejabat keamanan Iran menyatakan negaranya siap menghadapi konflik jangka panjang dan menegaskan bahwa Iran akan merespons setiap serangan yang dianggap mengancam kedaulatan negara tersebut.
Situasi konflik Iran hingga kini masih berkembang dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejumlah negara dan organisasi internasional mulai menyerukan upaya diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang berpotensi memperluas konflik ke kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.










