Alami Kendala Pengantaran, Pelanggan Pertanyakan SOP Komunikasi Kurir JNE di Tangerang Selatan

banner 468x60

KawanJariNews.com – Tangerang Selatan, 25 November 2025 – Seorang pelanggan jasa ekspedisi JNE berinisial M menyampaikan keluhan terkait status pengantaran paket yang dinilai janggal dan dugaan pemblokiran WhatsApp oleh kurir pada 23–24 November 2025 di Tangerang Selatan, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai standar operasional perusahaan dalam pelayanan konsumen.

Kasus ini bermula ketika M membeli sebuah buku dari penjual atas nama Gus Arif yang berdomisili di Bogor. Paket dikirim melalui jasa ekspedisi JNE dan M menerima nomor resi untuk melacak status pengiriman.

Pada Minggu, 23 November 2025, M memantau progres pengiriman melalui sistem pelacakan resmi JNE. Dalam status pengiriman tercatat “Tidak Ada Orang di Rumah/Kantor Penerima” pada pukul 21.28 WIB. Menurut M, status tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan, karena ia menyatakan tidak pernah mendapat panggilan, pesan, atau upaya komunikasi dari kurir pada waktu tersebut.

Upaya Klarifikasi ke JNE Ciater dan CS JNE Tangerang

Keesokan harinya, Senin 24 November 2025, M berusaha mencari kejelasan mengenai posisi paketnya. Ia memperoleh nomor WhatsApp JNE Ciater dan menyampaikan keluhan terkait status pengiriman.

Respons yang diterima M adalah arahan untuk menghubungi nomor lain: “Kalau itu kurang tahu ya, bisa WA ke sini untuk kendalanya: +628………………… ,” tulis admin JNE Ciater.

Nomor tersebut terverifikasi sebagai kontak Customer Service JNE Tangerang.

Melalui percakapan, M menanyakan alasan status pengantaran tanggal 23: “Kenapa tanggal 23 statusnya tidak ada orang di rumah? Padahal saya tidak dihubungi kurir,” tanya M.

Pihak CS menyampaikan bahwa berdasarkan sistem, paket tersebut masih dalam proses pengantaran oleh kurir dan diminta menunggu tindak lanjut: “Kami cek di sistem, kirimannya sedang dalam proses… mohon ditunggu ya kak. Kami bantu infokan ke tim agar segera menghubungi pihak penerima.”

Baca Juga  IKPI Gelar Diskusi Panel: Mengulas Efektivitas Tax Amnesty dalam Mendongkrak Penerimaan Negara

Saat M meminta nomor kurir, CS menjawab tidak memiliki akses untuk membagikan kontak personel tersebut.

Komunikasi dengan Kurir dan Dugaan Pemblokiran WhatsApp

Sekitar pukul 13.12 WIB pada hari yang sama, M menerima panggilan telepon dari seseorang yang mengaku sebagai kurir JNE bernama Kiki Saputra. Namun ketika M mencoba menelepon kembali dua menit kemudian, nomor tersebut sudah tidak dapat dihubungi melalui WhatsApp.

M kemudian mencoba menghubungi nomor kurir menggunakan nomor lain pada 13.29 WIB, dan panggilan itu dijawab. Dalam percakapan tersebut, M meminta penjelasan mengenai dugaan pemblokiran dan status pengantaran: “Ini saya, yang alamatnya dekat musala. Kenapa WA saya diblokir? Bapak di mana? Saya ke sana saja,” tanya M.

Kurir menjelaskan bahwa ia sudah kembali ke gudang setelah lokasi penerima sebelumnya dinilai tidak ada orang: “Diblok nomor yang mana pak? Saya ini sudah di gudang. Tadi saya ke situ sepi… Kalau bapak mau ke sini, saya di gudang.”

Karena ingin memastikan paketnya, M akhirnya mendatangi gudang untuk mengambil barang tersebut secara langsung.

Keluhan Mengenai Koordinasi Antar-Cabang

M juga mempertanyakan alur komunikasi internal JNE yang dinilainya tidak efektif. Ia harus menghubungi dua kanal berbeda (Ciater dan Tangerang) untuk masalah yang sama, namun tetap belum menerima jawaban yang jelas saat itu.

“Kurir di ekspedisi lain biasanya bisa langsung dihubungi untuk menghindari kesalahpahaman. Sementara ini harus berputar-putar mencari informasi,” ujar M dalam percakapan dengan redaksi.

Penjelasan dan Permohonan Maaf dari CS JNE Bogor

Masih pada Senin sore, 24 November 2025 sekitar pukul 16.00 WIB, M dihubungi Customer Service JNE Cabang Bogor bernama Deni. Ia meminta konfirmasi apakah paket berisi buku dari Bogor sudah diterima.

Baca Juga  FERADI WPI DPC Kota Semarang Dampingi Ning Yetty Upayakan Gugatan Pembatalan Lelang Rumah

“Saya dengan Deni, dari Customer Service Cabang Bogor. Mau konfirmasi kiriman kakak. Paketnya sudah diterima atau belum?” jelasnya.

M menyampaikan bahwa paket telah diterima dalam kondisi baik, namun didapatkan langsung di gudang karena status pengiriman sebelumnya dianggap tidak jelas.

M kembali menegaskan beberapa hal yang menurutnya perlu diperbaiki:

  • Kurangnya komunikasi kurir sebelum mengubah status pengantaran
  • WhatsApp kurir tidak lagi dapat dihubungi sesaat setelah panggilan pertama
  • Tidak adanya sinkronisasi informasi antara Ciater dan CS Tangerang

Merespons hal tersebut, Deni menyampaikan permohonan maaf dan memastikan laporan masuk untuk ditindaklanjuti oleh tim terkait: “Kami mohon maaf atas kendala yang terjadi. Kami teruskan agar pelayanan ke depannya lebih baik.”

Deni kemudian meminta izin untuk menutup laporan setelah memastikan paket telah diterima pelanggan.

Hingga berita ini diterbitkan, redaksi kawanjari.com masih menunggu penjelasan resmi JNE mengenai mekanisme validasi status pengantaran, kebijakan komunikasi kurir terhadap penerima, serta koordinasi antar-unit layanan perusahaan. Sesuai Kode Etik Jurnalistik dan UU Pers, media ini membuka hak jawab sepenuhnya bagi pihak JNE atau pihak lain yang berkepentingan untuk memberikan klarifikasi lanjutan.

Posting Terkait

Jangan Lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *