Dr. Drs. H. Tri Leksono Nilai Pendidikan Nasional Jadi Penentu Masa Depan Indonesia

banner 468x60

KawanJariNews.com — Dr. Drs. H. Tri Leksono, Ph., S.Kom., M.Pd., Kons., menilai pendidikan nasional tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar di sekolah, tetapi merupakan fondasi utama dalam menentukan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan itu disampaikannya dalam keterangannya mengenai arah pembangunan pendidikan menuju Indonesia Emas.

Tri Leksono menyampaikan bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam 10 hingga 20 tahun ke depan sangat ditentukan oleh proses pendidikan yang berlangsung saat ini. Menurutnya, generasi yang kini berada di ruang kelas akan menjadi dokter, pendidik, dosen, konselor, petani, insinyur, hingga pemimpin bangsa di masa mendatang.

Ia menilai pendidikan nasional merupakan proyek besar bangsa untuk mencetak manusia Indonesia yang cerdas secara intelektual dan berakhlak mulia. Karena itu, pendidikan tidak dapat dipandang hanya sebagai urusan administratif kementerian, tetapi sebagai tanggung jawab nasional yang harus dijaga keberlangsungannya.

Menurut Tri Leksono, salah satu capaian positif saat ini adalah semakin terbukanya akses masyarakat terhadap pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Program wajib belajar 13 tahun dinilai telah memperluas kesempatan belajar, termasuk bagi masyarakat di daerah yang sebelumnya menghadapi hambatan biaya maupun jarak.

Selain itu, ia menilai kebijakan Merdeka Belajar memberi ruang lebih luas bagi pendidik dan peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, tidak hanya berfokus pada capaian nilai ujian, tetapi juga kualitas proses pembelajaran.

Meski demikian, Tri Leksono menegaskan masih terdapat pekerjaan rumah besar di sektor pendidikan. Salah satunya adalah peningkatan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung peserta didik. Berdasarkan hasil asesmen internasional PISA, kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara lain.

Menurutnya, masih banyak peserta didik yang sudah mampu membaca, namun belum sepenuhnya memahami isi bacaan. Demikian pula dalam berhitung, masih ditemukan kesulitan dalam menyelesaikan soal berbasis logika dan cerita.

Baca Juga  80.000 Koperasi Desa Merah Putih dan Skema Permodalan Berisiko: Antara Pemberdayaan dan Tekanan Fiskal Desa

Tri Leksono juga menyoroti kesenjangan fasilitas pendidikan antarwilayah. Ia menyebut di kota besar sebagian sekolah telah menggunakan pendingin ruangan, proyektor, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI). Namun di sejumlah daerah terpencil, masih terdapat sekolah dengan sarana terbatas dan kondisi bangunan yang belum layak.

Selain sarana, kesejahteraan tenaga pendidik honorer juga menjadi perhatian. Menurutnya, negara perlu hadir secara nyata untuk memastikan pemerataan kualitas pendidikan sesuai amanat undang-undang.

Ia menambahkan bahwa pendidik merupakan ujung tombak pendidikan yang kerap terlupakan. Menurutnya, pendidik yang kompeten mampu melahirkan peserta didik berprestasi meskipun dengan fasilitas terbatas. Sebaliknya, fasilitas lengkap tidak akan maksimal tanpa tenaga pendidik yang berkualitas.

Karena itu, ia mendorong penataan kembali kualitas Pendidikan Profesi Guru (PPG), agar pelaksanaannya tidak sekadar mengejar target administratif, tetapi benar-benar menyiapkan pendidik yang siap mengajar secara profesional.

Tri Leksono juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital. Saat ini, anak-anak dinilai banyak memperoleh informasi dari media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube. Kondisi ini menurutnya menjadi tantangan sekaligus peluang.

Pendidikan, kata dia, kini tidak cukup hanya mengajarkan pelajaran akademik, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, memilah informasi benar atau hoaks, bekerja sama dalam perbedaan, serta menjaga kejujuran di ruang digital.

Dalam konteks itu, ia menilai konsep Profil Pelajar Pancasila menjadi penting, yakni membentuk generasi yang kritis, kreatif, gotong royong, toleran, berempati, jujur, bertanggung jawab, dan berkarakter kuat.

Tri Leksono menyampaikan bahwa pendidikan ideal harus memenuhi tiga unsur utama. Pertama, merata, yakni setiap anak Indonesia dari Papua hingga Jakarta memiliki kesempatan pendidikan yang sama. Kedua, relevan, yaitu lulusan sekolah memiliki kesiapan untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan tinggi. Ketiga, berkarakter, yakni cerdas sekaligus menjunjung nilai kejujuran, toleransi, dan kepedulian sosial.

Baca Juga  Oknum Guru SMP di Demak Divonis 12 Tahun Penjara atas Kasus Pencabulan, LBH Brajamusti Nusantara - FERADI WPI Apresiasi Putusan Hakim

Ia mengibaratkan pendidikan seperti menanam pohon yang hasilnya tidak terlihat dalam waktu singkat, tetapi akan memberi manfaat besar bagi bangsa pada masa depan.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas pendidikan saat ini akan menentukan daya saing Indonesia dalam menghadapi tantangan global menuju visi Indonesia Emas.

 Tri Leksono berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat, dapat bersama-sama memperkuat sistem pendidikan nasional agar lebih merata, berkualitas, dan berorientasi pada pembangunan karakter generasi penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *