Dampak Lanina dan Tren Cuaca Ekstrem: Pemerintah Perkuat Mitigasi Banjir di Berbagai Wilayah

banner 468x60

KawanJariNews.com – Jakarta, 7Desember 2025Fenomena iklim Lanina yang berlangsung sejak akhir 2025 hingga awal 2026 memicu peningkatan curah hujan dan potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia, dengan pemerintah mengintensifkan langkah mitigasi untuk menghadapi risiko banjir, tanah longsor, hingga ancaman cuaca ekstrem di sejumlah daerah.

Peningkatan Curah Hujan Akibat Lanina

Fenomena Lanina yang diperkirakan bertahan hingga awal 2026 meskipun berkategori lemah, tetap memberikan dampak signifikan terhadap pola cuaca di Indonesia. Peningkatan drastis curah hujan bertepatan dengan awal musim hujan, sehingga meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di berbagai wilayah. Kondisi ini memberi tekanan kepada pemerintah dalam melakukan mitigasi dan pengelolaan bencana, terutama di daerah dataran rendah dan kawasan rawan bencana seperti Jakarta.

Banjir di Sumatera dan Respons Pemerintah

Pada November, banjir dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Curah hujan tinggi yang dipicu siklon di wilayah timur Selat Malaka menjadi penyebab utama meningkatnya volume air. Alih fungsi lahan dan deforestasi memperburuk kondisi tersebut.
Sebagai langkah penanganan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoperasikan modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Pesawat modifikasi cuaca dikerahkan untuk membantu menurunkan curah hujan secara lokal, sehingga proses evakuasi dan penanganan korban dapat dilakukan lebih optimal.

Prediksi BMKG dan Potensi Bencana di Jakarta

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa dampak Lanina tetap berpotensi memicu bencana di Jakarta. Meski Lanina tergolong lemah, curah hujan diperkirakan meningkat signifikan pada Januari dan Februari, bertepatan dengan puncak musim hujan. BMKG memantau pergerakan siklon serta pola cuaca dan merilis prediksi setiap 10 hari untuk mendukung upaya antisipasi.

Baca Juga  FERADI WPI Jakarta Raya Gelar Pelayanan Rohani di Lapas Gunung Sindur, Warga Binaan Ikuti dengan Khidmat

Mitigasi Banjir di Jakarta: Waduk, Sungai, dan Pompa Air

Pemerintah Jakarta melakukan berbagai langkah kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Pengerukan Waduk Pluit dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tampung air. Selain itu, pembersihan sungai dan gorong-gorong dilakukan secara rutin guna menjaga kelancaran aliran air.
Rumah Pompa Muara Baru dioperasikan maksimal selama 24 jam oleh puluhan operator untuk menjaga sistem pengendalian banjir. Pompa-pompa tersebut bekerja mengalirkan air ke laut agar genangan dapat diminimalkan.

Rembesan Air Laut dan Penguatan Tanggul Pantai Utara

Pengawasan di wilayah pesisir menemukan rembesan air laut melalui celah sekitar 5 cm pada tanggul pantai Muara Baru. Kondisi tersebut menandakan adanya bagian tanggul yang keropos dan berpotensi menyebabkan banjir dari arah laut.
Sebagai langkah mitigasi, Pemprov DKI melalui Dinas Sumber Daya Air telah mengevaluasi kondisi tanggul dan melanjutkan pembangunan pengaman pantai di Pantai Mutiara dan Muara Baru. Pembangunan tanggul di Pantai Mutiara dimulai pada 2024 dan ditargetkan selesai sebelum konstruksi di Muara Baru dimulai pada 2025. Proses lelang proyek penguatan tanggul sedang berjalan.

Normalisasi Sungai dan Pembebasan Lahan di Kawasan Rawan Banjir

Di kawasan aliran Sungai Ciliwung, pemerintah melaksanakan program normalisasi termasuk pembebasan lahan seluas 67.270 m² di Kelurahan Cawang dan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati. Proses ini ditargetkan selesai dalam dua tahun untuk mendukung pembangunan tanggul dan pelebaran kapasitas sungai.
Normalisasi ini diharapkan mengurangi banjir di kawasan yang kerap terdampak seperti Kemang. Proyek ini dijadwalkan mulai dikerjakan pada awal 2026 dan diperkirakan selesai pada 2029 dengan anggaran sekitar Rp2 triliun.

Monitoring Banjir di Kawasan Padat Penduduk

Peninjauan juga dilakukan di kawasan Pondok Jaya, Mampang Prapatan, yang mengalami banjir lokal akibat curah hujan tinggi. Rumah Pompa Pondok Jaya beroperasi untuk mengendalikan genangan. Tiga unit mesin pompa dalam kondisi baik dan memiliki kapasitas sedot hingga 1.000 m³ per detik, dioperasikan penuh selama musim hujan untuk menjaga sistem drainase kota.

Baca Juga  Perayaan Jumat Agung di Katedral Jakarta Berlangsung Khidmat dan Tertib

Pengalaman Warga Ciliwung dan Upaya Pemulihan

Warga bantaran Sungai Ciliwung mengungkapkan bahwa banjir ekstrem sebelumnya pernah mencapai ketinggian 6 meter dan membawa material lumpur dalam jumlah besar. Sebagian warga telah direlokasi sebagai bagian dari program normalisasi sungai. Pemerintah menegaskan pentingnya sinergi dengan masyarakat untuk menjaga lingkungan dan mendukung langkah pengurangan risiko banjir.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa fenomena Lanina, ditambah siklon serta kerusakan lingkungan, berdampak besar pada peningkatan bencana hidrometeorologi. Pemerintah memperkuat infrastruktur pengendali banjir, sementara masyarakat didorong berperan aktif menjaga lingkungan demi ketahanan jangka panjang.

Pemerintah menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem membutuhkan kolaborasi pemerintah dan masyarakat. Upaya mitigasi seperti normalisasi sungai, penguatan tanggul, operasi pompa, serta pembersihan aliran air akan terus dilakukan untuk mengurangi risiko bencana selama puncak musim hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *