Tragedi Kebakaran Bukit Duri: Empat Anak Perempuan Tewas, Pakar Sebut Tata Kota Jakarta Genting

banner 468x60

kawanjarinews.com – Jakarta –
Empat anak perempuan menjadi korban jiwa dalam tragedi kebakaran yang melanda kawasan Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, pada awal Juli 2025. Insiden memilukan ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan warga sekitar, sekaligus menyoroti urgensi pembenahan tata kota di kawasan padat penduduk Jakarta.

Identifikasi Korban oleh Tim DVI

Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Bhayangkara Polri berhasil mengidentifikasi keempat jenazah korban yang seluruhnya adalah anak perempuan berusia antara 3 hingga 11 tahun. Mereka adalah:

  • Putri Lavina (11 tahun)
  • Janisah Aisyah Radit (3 tahun)
  • Nurul Azkiah (7 tahun)
  • Azizah (3 tahun)

Proses identifikasi dilakukan dengan metode odontologi forensik (pencocokan gigi) dan pemeriksaan properti pribadi seperti anting-anting, karena kondisi jenazah yang hangus terbakar. Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Heru, menekankan pentingnya data antemortem dalam proses ini.

Kronologi dan Dampak Kebakaran

Kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik di sebuah bangunan dua lantai. Dua korban yang merupakan kakak beradik tewas karena terjebak di lantai atas rumah. Selain korban jiwa, dua orang mengalami luka-luka, dan 24 warga mengungsi ke pos penampungan sementara milik BPBD DKI Jakarta.

Peristiwa ini menambah daftar kebakaran yang terjadi dalam lima hari terakhir di wilayah DKI Jakarta, mulai dari Cilincing hingga Tebet.

Tanggapan Pakar Tata Kota: Akar Masalah Ada di Desain Permukiman

Yaya Supriatna, pakar tata kota dari Universitas Trisakti, menilai bahwa kebakaran di Jakarta bukan hanya soal insiden teknis, tapi gejala sistemik dari tata ruang yang tidak ramah keselamatan.

“Kita sedang melihat kegagalan tata kota yang nyata. Kepadatan dan kerapatan bangunan membuat api sangat mudah menjalar. Bangunan yang berdempetan tanpa sekat dan gang sempit yang ditutup warga untuk bangunan tambahan telah menutup akses evakuasi dan pemadam,” kata Mas Yaya.

Baca Juga  Sopir Taksi Green SM Ungkap Mobil Mati di Perlintasan, Kecelakaan Kereta Bekasi Masih Diselidiki

Lebih lanjut, ia menambahkan: “Jakarta hampir kehilangan fungsi gang kebakaran. Padahal itu vital untuk pemisah api dan jalur penyelamatan. Jika ini terus dibiarkan, setiap musibah kebakaran bisa jadi bencana massal.”

Rekomendasi Konkret untuk Pemerintah dan Warga

Mas Yaya memberikan sejumlah rekomendasi realistis untuk memitigasi risiko kebakaran, di antaranya:

  1. Instalasi listrik harus dilakukan oleh teknisi bersertifikat
  2. Fungsi gang kebakaran harus dikembalikan dan dilindungi
  3. Pemetaan zona rawan kebakaran di kawasan padat
  4. Distribusi alat pemadam api ringan (APAR) di tingkat RT/RW
  5. Pengembangan teknologi pemadaman untuk lokasi sempit

“Penyelesaian tidak bisa setengah-setengah. Harus ada penataan ulang kawasan padat yang mempertimbangkan keselamatan warga, bukan hanya kepadatan hunian,” tutup Mas Yaya.

Tragedi Bukit Duri menjadi peringatan nyata bahwa keselamatan warga harus menjadi bagian utama dalam perencanaan tata kota. Ketiadaan jalur evakuasi, buruknya sistem kelistrikan, dan lemahnya pengawasan menjadi kombinasi mematikan yang mengancam warga di permukiman padat.

Pemerintah daerah bersama warga diharapkan segera merespons dengan langkah nyata, mulai dari penertiban bangunan liar, revitalisasi jalur evakuasi, hingga penegakan standar instalasi listrik, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Baca juga: Tingkat Pengangguran Nasional Capai 7,28 Juta Orang, Didominasi Lulusan SMA dan Sarjana

Baca juga: Fakultas Hukum Universitas MPU Tantular Resmikan Peluncuran Buku Jelajah Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *