Hilal 1 Syawal 1447 H Diprediksi Sulit Terlihat di Jakarta, LF PWNU DKI Jakarta Tunggu Hasil Sidang Itsbat

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA – Lembaga Falakiyah (LF) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta melaporkan bahwa hilal 1 Syawal 1447 Hijriah diperkirakan sulit terlihat dari wilayah Jakarta pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada gabungan perhitungan astronomis (hisab) dan pemantauan langsung (rukyatul hilal) yang dilakukan sebagai bagian dari mekanisme penentuan awal bulan hijriah, khususnya untuk menetapkan jatuhnya Hari Raya Idul Fitri. Meski demikian, keputusan final mengenai penetapan 1 Syawal tetap menunggu hasil pemantauan nasional dan sidang itsbat Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hisab Tunjukkan Parameter Hilal di Sejumlah Wilayah Belum Penuhi Kriteria

Dalam laporan awal yang disampaikan LF PWNU DKI Jakarta, penentuan visibilitas hilal mengacu pada dua parameter astronomis utama, yakni ketinggian hilal (altitude) dan elongasi atau jarak sudut antara Matahari dan Bulan.

Berdasarkan data yang dirilis LF PWNU DKI Jakarta dan dikonfirmasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), acuan yang digunakan adalah kriteria MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yaitu ketinggian minimal hilal 3 derajat di atas ufuk dan elongasi minimal 6,4 derajat agar memenuhi standar imkanur rukyah atau kemungkinan hilal dapat terlihat.

Dari hasil perhitungan, posisi hilal di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, disebut berada pada rentang 0,9 hingga 3,1 derajat untuk ketinggian, sementara elongasi berkisar 4,5 hingga 6,1 derajat. Secara astronomis, kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya memenuhi ambang batas yang dipersyaratkan.

Di Makassar, misalnya, ketinggian hilal saat matahari terbenam diperkirakan hanya 1 derajat 40,32 detik, sedangkan di Medan peluang pengamatan semakin berkurang akibat kondisi cuaca yang mendung dan sempat diguyur hujan ringan.

Pemantauan Dilakukan Serentak di Berbagai Daerah, Gunakan Alat Astronomi Presisi

Meski hisab menjadi dasar kalkulatif, rukyatul hilal tetap menjadi salah satu tahapan penting dalam proses penentuan awal Syawal di Indonesia.

Baca Juga  Paparan Posisi Hilal Awal Syawal 1447 H: Secara Astronomis Belum Memenuhi Kriteria, 1 Syawal Diproyeksikan Jatuh 21 Maret 2026

Pemantauan dilakukan secara serentak di ratusan titik strategis di berbagai daerah, termasuk Jakarta Timur, Jakarta Barat, Makassar, dan Medan, sebagai bagian dari mekanisme resmi yang dikoordinasikan Kementerian Agama Republik Indonesia. Hasil dari seluruh titik pemantauan tersebut kemudian dihimpun untuk menjadi bahan dalam sidang itsbat nasional.

Di wilayah DKI Jakarta, pengamatan disebut berlangsung sekitar pukul 18.05 hingga 18.15 WIB, antara lain di Masjid K.H. Hasyim Asy’ari, Cengkareng, serta di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta.

Untuk mendukung akurasi observasi, tim pemantau menggunakan sejumlah perangkat, seperti teleskop astronomi, teropong rukyat, theodolite, dan kamera digital beresolusi tinggi. Perangkat tersebut digunakan untuk membantu identifikasi posisi hilal, mengukur sudut elevasi dan azimuth, serta merekam citra langit saat waktu pengamatan.

Cuaca dan Kondisi Atmosfer Jadi Faktor Penentu Keberhasilan Rukyat

Selain faktor astronomis, keberhasilan pemantauan hilal juga sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer di masing-masing wilayah.

Di Jakarta Timur, cuaca dilaporkan relatif cerah, namun secara astronomis posisi hilal tetap berada di bawah ambang batas ideal. Di Jakarta Barat, aktivitas pemantauan di Masjid K.H. Hasyim Asy’ari sempat menyesuaikan waktu ibadah, sementara petugas mengombinasikan penggunaan alat modern dengan metode tradisional, termasuk rubu’ mujayyab.

Di Makassar, meskipun bulan dilaporkan berada di atas ufuk selama sekitar 9 menit 1,8 detik, ketinggiannya masih dinilai belum memenuhi kriteria visibilitas hilal menurut standar MABIMS.

Adapun di Medan, tantangan utama justru berasal dari cuaca. Langit yang mendung, awan tebal, dan hujan ringan membuat peluang pengamatan visual terhadap hilal menjadi sangat kecil.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penentuan awal Syawal tidak hanya bergantung pada hasil hisab, tetapi juga pada dinamika lokal di lapangan yang dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Baca Juga  Kecelakaan Truk di Tol JORR: Satu Truk Terguling, Arus Dialihkan ke GT Lenteng Agung 3

LF PWNU DKI Jakarta Prediksi Idul Fitri Jatuh pada Sabtu, 21 Februari 2026

Berdasarkan keseluruhan data hisab dan prospek rukyat yang tersedia, LF PWNU DKI Jakarta memperkirakan Idul Fitri 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Namun, lembaga tersebut menegaskan bahwa prediksi tersebut masih bersifat awal dan belum merupakan keputusan final. Penetapan resmi tetap menunggu hasil pemantauan nasional serta sidang itsbat Kementerian Agama RI yang menjadi forum resmi penentuan awal Syawal secara nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *