KawanJariNews.com – SEMARANG – Warga Kelurahan Ngaliyan, Kota Semarang, menggelar tradisi Nyadran dengan kirab 26 gunungan tumpeng menuju Makam Giriloyo pada Minggu (8/2/2026), sebagai bentuk doa bersama dan penghormatan kepada leluhur menjelang bulan suci Ramadan 1447 H.
Tradisi Nyadran atau Sadran kembali digelar secara penuh di Kelurahan Ngaliyan setelah sempat dilaksanakan secara terbatas pada masa pandemi Covid-19. Kegiatan diawali dari pendopo kelurahan dengan arak-arakan 26 gunungan tumpeng yang dibawa warga menuju kompleks Makam Giriloyo.
Lurah Ngaliyan, Nurkolis, secara resmi membuka rangkaian kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan tahun ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang ingin menghidupkan kembali tradisi secara utuh.
“Tradisi ini rutin setiap tahun, namun sempat terhenti secara penuh karena pandemi. Pada 2026, atas usulan dan aspirasi warga, kami gelar kembali secara lengkap. Dulu saat pandemi hanya sederhana, kini kami hidupkan lagi semangat kebersamaannya,” ujar Nurkolis.
Nyadran berasal dari kata “sadran” yang merujuk pada bulan Sya’ban dalam kalender Hijriah. Dalam praktiknya, warga melakukan pembersihan makam, menaburkan bunga telasih, serta memanjatkan doa untuk orang tua, leluhur, dan kerabat yang telah wafat.
Ketua panitia Nyadran, Agung, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kolaborasi Paguyuban Pangrekso Giriloyo bersama 15 Rukun Warga (RW) di wilayah tersebut.
“Total ada 26 tumpeng: 15 dari masing-masing RW dan 10 tambahan dari RT yang ikut secara sukarela. Ini murni hasil gotong royong warga,” jelas Agung.
Selain kirab dan doa bersama, rangkaian acara juga diisi tausiah agama serta santunan bagi warga lanjut usia di setiap RW. Setelah doa bersama, tumpeng dibagikan kepada warga sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Makam Giriloyo menjadi pusat kegiatan karena merupakan tempat pemakaman bersama warga dari 15 RW di Kelurahan Ngaliyan. Sejumlah peziarah dari luar wilayah juga turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Salah satu warga RW 07, Suroyo, menyampaikan pandangannya terkait makna tradisi tersebut.
“Dengan membudayakan agama melalui tradisi seperti ini, nilai-nilai agama menjadi mudah dipahami dan hidup di tengah masyarakat. Ini juga bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur, sekaligus mempererat kebersamaan,” ujarnya.
Pelaksanaan Nyadran tahun ini menandai kembalinya aktivitas budaya masyarakat secara kolektif setelah masa pembatasan sosial beberapa tahun terakhir. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual spiritual menjelang Ramadan, tetapi juga sarana memperkuat silaturahmi dan solidaritas antarwarga.
Kegiatan yang melibatkan seluruh RW menunjukkan partisipasi masyarakat yang luas dalam menjaga warisan budaya lokal yang selaras dengan nilai keagamaan.
Pemerintah Kelurahan Ngaliyan bersama masyarakat menyatakan komitmennya untuk terus melestarikan tradisi Nyadran sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya warga. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan pembagian tumpeng kepada seluruh peserta.










