IHSG Anjlok 5 Persen dan Rupiah Melemah di Tengah Ketegangan Global

banner 468x60

KawanJariNews.com – JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan signifikan pada Senin (9/3/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 5 persen pada sesi pembukaan perdagangan, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah mendekati Rp17.000 per USD. Tekanan ini dipicu oleh kombinasi ketegangan geopolitik global di kawasan Timur Tengah serta perubahan sentimen investor internasional terhadap aset berisiko di negara berkembang.

Penurunan tajam IHSG terjadi pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Indeks sempat menyentuh level terendah intraday di 7.162,25 sebelum bergerak di kisaran 7.313,29 pada pukul 10.01 WIB atau turun sekitar 3,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan. Rupiah tercatat berada di level sekitar Rp16.970 per dolar AS atau melemah sekitar 0,41 persen dalam satu hari perdagangan. Kondisi ini mencerminkan tekanan ganda yang berasal dari faktor eksternal dan domestik terhadap stabilitas pasar keuangan nasional.

Salah satu faktor utama yang memicu gejolak pasar adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ketegangan tersebut berdampak langsung pada gangguan jalur distribusi energi global di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur pengiriman minyak paling penting di dunia.

Gangguan pasokan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia yang dilaporkan meningkat hingga sekitar 30 persen dalam satu hari dan mendekati level 120 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan tekanan inflasi, biaya produksi, serta risiko kenaikan suku bunga di berbagai negara.

Di tengah ketidakpastian tersebut, investor global cenderung mengalihkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman. Strategi yang dikenal sebagai “risk-off” ini mendorong penguatan dolar AS dan meningkatkan volatilitas di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Baca Juga  Tiga ABK WNI Hilang Usai Kapal Tugboat Musaffah 2 Tenggelam di Selat Hormuz

Selain tekanan eksternal, sentimen domestik juga dipengaruhi kekhawatiran pasar terhadap posisi Indonesia dalam indeks saham global yang dikelola oleh MSCI Inc.. Penurunan bobot Indonesia dalam indeks pasar negara berkembang menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar, yang berpotensi memengaruhi aliran modal asing ke pasar saham domestik.

Penurunan IHSG pada hari tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh sektor. Sektor bahan baku mengalami koreksi paling dalam dengan penurunan lebih dari 6 persen, diikuti sektor infrastruktur, konsumer non-primer, dan perindustrian. Sektor energi juga mengalami pelemahan meskipun harga minyak dunia meningkat, menunjukkan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian ekonomi yang lebih luas.

Pelemahan rupiah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas moneter nasional. Depresiasi mata uang dapat meningkatkan biaya impor, khususnya energi dan barang modal, serta memperbesar beban utang luar negeri yang berdenominasi dolar.

Dalam waktu dekat, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi global yang dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan pasar, termasuk rilis data inflasi Amerika Serikat dan China. Kedua negara tersebut memiliki pengaruh besar terhadap arah kebijakan moneter global serta permintaan komoditas internasional.

Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia pada awal pekan ini mencerminkan dampak langsung dari dinamika ekonomi global yang tidak stabil serta sentimen investor terhadap risiko di pasar negara berkembang. Pelaku pasar menilai bahwa koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang kuat serta komunikasi kebijakan yang jelas akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *