KawanJariNews.com – Konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran global terhadap eskalasi perang di kawasan Timur Tengah. Hingga Sabtu (7/3/2026), pertempuran dilaporkan telah memasuki hari kedelapan dengan serangan rudal dan operasi militer yang masih berlangsung di beberapa wilayah strategis.
Menurut laporan CNNIndonesia.com, perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah memasuki hari kedelapan tanpa tanda-tanda mereda. Serangkaian serangan udara dan balasan rudal terus terjadi di berbagai titik di kawasan Timur Tengah, memperluas ketegangan geopolitik yang berdampak pada stabilitas regional.
Dilansir dari CNBC Indonesia, eskalasi konflik semakin meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer ke sejumlah target strategis di Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Menurut laporan media internasional yang dikutip berbagai kantor berita, Iran juga melancarkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di Timur Tengah sebagai respons terhadap operasi militer gabungan tersebut. Serangan balasan itu memperluas ketegangan dan meningkatkan kewaspadaan negara-negara di kawasan.
Sementara itu, sejumlah negara di kawasan Global South mengecam operasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Beberapa negara menilai tindakan tersebut berpotensi memperburuk stabilitas kawasan dan meningkatkan risiko konflik yang lebih luas.Dilansir dari laporan berbagai media internasional, konflik ini bermula dari meningkatnya ketegangan terkait isu program nuklir Iran serta dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah. Serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran, yang kemudian memicu respons militer dari Teheran.
Situasi ini juga berdampak pada keamanan regional dan global, termasuk gangguan jalur penerbangan, meningkatnya harga energi, serta kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dunia. Penutupan sebagian wilayah udara di Timur Tengah dilaporkan menyebabkan sejumlah penerbangan internasional ditunda atau dibatalkan.
Selain itu, pemerintah Indonesia turut memantau perkembangan konflik tersebut. Presiden Prabowo Subianto disebut meminta pemerintah dan institusi terkait untuk bersiap menghadapi berbagai kemungkinan dampak dari eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk perlindungan terhadap warga negara Indonesia di kawasan tersebut.Sejumlah pengamat menilai konflik berpotensi terus berkembang jika tidak ada langkah diplomasi yang efektif. Pemerintah Indonesia juga disebut menawarkan diri sebagai mediator untuk mendorong dialog antara pihak-pihak yang terlibat guna meredakan ketegangan.
Hingga kini, komunitas internasional terus mendorong upaya diplomatik agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.










